Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan ekspektasinya bahwa perundingan diplomasi antara AS dan Iran akan berlanjut pada pekan ini. Pernyataan ini disampaikan hanya sehari setelah ia secara resmi menolak tawaran usulan gencatan senjata dan pembukaan kembali Selat Hormuz yang diajukan oleh pihak pemerintah Iran.
Meskipun diplomasi kembali dibuka, ketegangan di kawasan Timur Tengah masih berada di tingkat krisis tinggi. Pihak Gedung Putih menegaskan tidak menutupi kemungkinan adanya aksi militer lanjutan sebelum Pemilihan Umum Sela (Midterm Elections) AS digelar pada November 2026.
Menurut laporan Fox News pada Senin (28/9/2026), Presiden Trump enggan menepis kemungkinan dilancarkannya serangan militer tambahan ke wilayah Iran dalam beberapa pekan ke depan. “Saya tidak ingin mengatakan itu secara pasti. Maksud saya, opsi itu sangat mungkin terjadi, tetapi saya memilih untuk tidak menegaskannya saat ini,” ujar Trump merespons pertanyaan mengenai serangan balasan lanjutan.
Kendati demikian, Trump memprediksi bahwa peperangan yang telah berlangsung selama kurun waktu enam bulan ini akan segera berakhir. Ia meyakini harga minyak dunia yang melambung akibat konflik bakal kembali turun secara drastis. “Kuncinya adalah Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir. Itulah poin utama dari seluruh konflik ini,” tegas Trump.
Dalam wawancara terpisah via telepon dengan media Axios, Trump mengungkapkan alasan di balik penolakannya terhadap usulan damai Iran. Usulan tersebut sebelumnya menyaratkan pembukaan kembali jalur pelayaran vital Selat Hormuz dan pengaktifan kembali dialog nuklir, dengan imbalan pencabutan blokade laut serta sanksi minyak oleh AS. “Merek ingin membuat kesepakatan, tetapi itu bukan kesepakatan yang saya kehendaki. Tawaran itu mungkin saja kami terima satu tahun lalu. Namun sekarang, mereka telah salah memperhitungkan langkah karena mereka berada di posisi kalah telak,” kata Trump kepada Axios.
Mengenai apakah serangan militer akan kembali diaktifkan, Trump secara gamblang menjawab: “Saya selalu mempertimbangkannya.”
Iran Tegaskan Siap Perang Sekaligus Buka Pintu Diplomasi
Dari New York, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyampaikan kepada NBC bahwa Iran belum menerima pemberitahuan resmi terkait penolakan proposal mereka oleh pihak AS. Araghchi menegaskan, militer Iran berada dalam posisi siap penuh menghadapi eskalasi pertempuran. “Kami sepenuhnya siap jika perang harus berlanjut. Namun di saat yang sama, kami juga siap untuk jalur diplomasi. Keputusan sepenuhnya ada di tangan Presiden Trump,” tegas Araghchi.
Sementara itu, Presiden Iran Masoud Pezeshkian dalam wawancaranya dengan CBS News menyatakan meski berada di tengah “atmosfer ketidakpercayaan” yang pekat, Iran siap mengizinkan kembali tim inspektur nuklir PBB (IAEA) masuk ke wilayahnya sebagai bagian dari kesepakatan gencatan senjata jangka panjang.
Eskalasi diplomatik ini juga mewarnai Sidang Majelis Umum PBB, di mana Wakil Menteri Luar Negeri Iran menuding Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu memanfaatkan pidatonya untuk membenarkan agresi perang. Ia menyebut aksi walkout massal para delegasi saat Netanyahu berpidato sebagai bentuk penolakan dunia yang sangat tegas.
Peringatan Pengamat Politik AS
Langkah keras pemerintahan Trump menuai kritik tajam dari dalam negeri. Anggota DPR AS dari Partai Demokrat sekaligus anggota senior Komite Intelijen DPR, Jim Himes, menilai ancaman Trump untuk “menghancurkan Iran” sebagai retorika yang tidak masuk akal.
Himes mengingatkan, Iran telah membuktikan ketahanannya dalam menghadapi gempuran militer AS dan Israel selama setengah tahun terakhir. “Kita telah menenggelamkan angkatan laut mereka dan menghancurkan banyak pesawat mereka. Namun selama enam bulan, bangsa Iran terbukti mampu bertahan dari gempuran terhebat yang kita dan Israel lancarkan,” kata Himes.
Himes memperingatkan, Iran saat ini memiliki kartu truf ekonomi yang dapat memengaruhi peta politik Pemilu Sela AS pada November 2026. Berikut poin-poin pengaruhnya:
- Leverage Jalur Pasokan Minyak: Jika Iran menginstruksikan kelompok sekutunya (seperti Houthi) untuk menyerang kapal-kapal di Selat Hormuz, harga minyak dunia diproyeksikan melonjak hingga US$ 120 per barel.
- Lonjakan Harga Bahan Bakar Domestik: Harga solar AS bisa menembus rekor US$ 8 per galon.
- Dampak Politik Elektoral: Kenaikan harga kebutuhan pokok dan energi berpotensi besar membuat calon-calon legislatif dari Partai Republik (seperti Mike Lawler di New York atau Ashley Hinson di Midwest) kehilangan suara dan kalah dalam pemilu.
“Orang-orang Iran tidak bodoh. Mereka telah bernegosiasi selama ribuan tahun dan sangat memahami bahwa mereka memegang pengaruh masif terhadap apa yang terjadi di AS bulan November nanti hanya dengan mengontrol arus minyak dan pupuk lewat celah Selat Hormuz,” tutup Himes.
Konflik terbuka antara AS, Israel, dan Iran yang memuncak sejak awal 2026 bermula dari eskalasi militer terkait program pengayaan uranium Iran serta pertempuran di kawasan Timur Tengah. Selat Hormuz sebagai jalur laut sempit yang menjadi perlintasan bagi sekitar seperlima dari total pasokan minyak mentah dunia telah menjadi titik krusial pertikaian setelah pertempuran udara dan laut melumpuhkan rute pelayaran komersial di kawasan tersebut.
Langkah Amerika Serikat memblokir pelabuhan Iran serta menerapkan sanksi ekonomi sekunder ketat memicu kelangkaan energi global dan lonjakan inflasi domestik di AS. Di tengah gejolak ekonomi ini, isu peperangan dengan Iran menjadi topik penentu dalam Pemilu Sela AS November 2026, di mana pergeseran harga bahan bakar dan isu keterlibatan militer asing berpotensi mengoper peta kekuatan mayoritas di Kongres Amerika Serikat.