Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menegaskan komitmennya untuk gencar mendorong kegiatan eksplorasi dan meningkatkan produksi minyak nasional. Langkah ini dianggap krusial untuk memperkuat ketahanan energi dalam negeri, terutama mengingat Indonesia masih bergantung pada impor minyak mentah di tengah ketidakpastian pasar global.
Wakil Menteri ESDM, Yuliot, menyatakan bahwa fluktuasi harga minyak mentah dunia yang sempat menembus US$100 per barel menjadi peringatan bagi Indonesia untuk segera mengoptimalkan potensi sumber daya alam domestik. Ketergantungan pada pasokan luar negeri membuat pasokan energi nasional rentan terhadap guncangan eksternal dan kenaikan harga internasional.
“Karena sebagian besar energi-energi kita untuk minyak masih impor dari luar, tentu kita harus melihat sumber dalam negeri bagaimana kita meningkatkan,” ujar Wamen Yuliot saat ditemui di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta, Selasa (29/9/2026).
Potensi Lapangan Baru dan Kemudahan Investasi
Kementerian ESDM mencatat bahwa sejumlah lapangan minyak di dalam negeri menunjukkan indikasi potensi produksi yang menjanjikan. Beberapa proyek eksplorasi teridentifikasi memiliki potensi kapasitas produksi hingga 3.000 barel per hari (bph).
Potensi-potensi tersebut, baik dari hasil kegiatan eksplorasi maupun eksploitasi, akan terus dipacu pada periode 2027 hingga 2028. Pemerintah menargetkan agar tingkat produksi minyak bumi nasional dapat kembali menembus angka di atas 1 juta barel per hari.
Untuk mencapai target ambisius ini, pemerintah tidak hanya mendorong peran BUMN, tetapi juga membuka ruang bagi badan usaha swasta untuk meningkatkan aktivitas penemuan cadangan baru. Sebagai bentuk komitmen, pemerintah berjanji memberikan berbagai kemudahan regulasi dan insentif guna menggairahkan iklim investasi di sektor hulu migas.
“Jadi nanti ya kita juga akan melakukan kemudahan-kemudahan. Dari kemudahan tersebut ya kita juga ini target produksi itu akan bisa tercapai,” pungkas Wamen Yuliot dengan nada optimistis.
Isu ketahanan energi Indonesia menjadi perhatian utama seiring dengan penurunan produksi secara alamiah (natural decline) pada sumur-sumur minyak tua di dalam negeri, sementara tingkat konsumsi BBM nasional terus meningkat dari tahun ke tahun. Kondisi ini menempatkan Indonesia sebagai negara pengimpor bersih minyak (net importer) sejak pertengahan dekade 2000-an.
Lonjakan harga minyak mentah dunia akibat gejolak geopolitik global yang menembus angka US$100 per barel, telah menyebabkan beban APBN untuk subsidi dan kompensasi energi membengkak tajam. Oleh karena itu, percepatan eksplorasi cekungan migas baru, kemudahan izin investasi, serta peningkatan produksi menuju target 1 juta barel per hari menjadi pilar utama pemerintah dalam menjaga kedaulatan dan stabilitas ekonomi nasional.