Sepolwan Polri Adaptasi Metode Belajar Modern untuk Hadapi Tantangan Masa Depan

JAKARTA – Sekolah Polisi Wanita (Sepolwan) Lembaga Pendidikan dan Latihan (Lemdiklat) Polri kini menerapkan metode pembelajaran baru yang berfokus pada Outcome Based Education (OBE) dan pemanfaatan Learning Management System (LMS). Langkah ini diambil untuk memastikan lulusan Sepolwan tidak hanya menguasai materi, tetapi juga memiliki kompetensi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat yang terus berkembang.

Wakapolri Komjen Dedi Prasetyo saat mengunjungi Sepolwan Lemdiklat Polri di Ciputat, Jakarta Selatan, menekankan pentingnya adaptasi dalam cara belajar. “Masyarakat berubah, tantangan berubah, maka cara kita belajar juga harus berubah. Polwan ke depan harus mampu menggunakan teknologi, berpikir kritis, berkomunikasi dengan baik dan memahami kebutuhan masyarakat,” ujar Komjen Dedi.

Metode OBE mengalihkan orientasi pendidikan dari sekadar penyampaian materi menjadi penekanan pada pembentukan kompetensi siswa. Tujuannya adalah agar siswa benar-benar menguasai apa yang dipelajari dan mampu menerapkannya saat bertugas di lapangan. Sementara itu, LMS menjadi bagian dari digitalisasi pendidikan yang memperluas akses siswa terhadap materi pembelajaran, memfasilitasi diskusi, serta menyediakan evaluasi yang terintegrasi.

Komjen Dedi mendorong para siswa untuk menjadi pembelajar aktif. “Jangan hanya menjadi siswa yang menunggu diberi tahu. Jadilah pembelajar yang aktif. Teknologi sudah memberikan begitu banyak sumber pengetahuan. Gunakan itu untuk memperkuat kemampuan kalian,” pesannya.

Dalam kunjungannya, Komjen Dedi meninjau berbagai fasilitas pendidikan, termasuk kelas digital, kelas judo, kelas menembak, dan dormitory. Ia juga berdialog dengan beberapa siswa, termasuk mereka yang berprestasi di bidang akademik, bahasa, dan olahraga. “Polisi bekerja dengan masyarakat. Karena itu kemampuan komunikasi menjadi kompetensi utama. Apa yang dipelajari di kelas harus bisa dibawa ke lapangan,” tambahnya.

Salah satu siswa yang diajak berbincang adalah Fransina Putri Iriani Blesya dari Polda Papua Barat Daya. Fransina, yang merupakan lulusan SMA dengan Kurikulum Merdeka, pernah meraih beasiswa penuh dari Pemerintah New South Wales untuk menempuh pendidikan teknik kimia di Macquarie University, Sydney, Australia. Ia juga menguasai Bahasa Inggris aktif, Bahasa Spanyol pasif, serta memiliki segudang prestasi akademik dan kepemimpinan.

Kepala Sepolwan Lemdiklat Polri, Kombes Melda Yanny, menjelaskan bahwa pendekatan pembelajaran saat ini sangat bergantung pada teknologi. “Siswa sekarang merupakan generasi yang sangat dekat dengan teknologi. Karena itu proses pembelajaran juga harus melibatkan teknologi. Pengajar menjadi fasilitator, sementara siswa didorong untuk aktif berdiskusi dan berpikir kritis,” kata Kombes Melda.

Sepolwan juga mencatat prestasi gemilang para siswanya di kancah internasional. Sebanyak 8 siswa mengikuti ASEAN Games di Jepang, sementara satu siswa lainnya berkompetisi di Kejuaraan Dunia Panjat Tebing di China dan Chili. Daftar siswa yang berkompetisi di ajang olahraga kelas dunia tersebut antara lain Nabila (tinju), Fatma Sri Hapsari, Dea Destian, Natasya Naiborhu, Richa Azlia, Asri Dewi Prasasti, dan Innes Aditiya (hockey), serta Ayustina Delia Priatna (balap sepeda) di ASEAN Games Jepang. Kadek Adi Asih mewakili Indonesia di Kejuaraan Dunia Panjat Tebing.

Komjen Dedi menutup pesannya dengan mengingatkan para siswa untuk menjadikan prestasi sebagai modal pengembangan diri. “Prestasi jangan berhenti sebagai piala. Jadikan prestasi sebagai modal untuk terus belajar dan berkembang. Kalian harus terus meningkatkan kemampuan karena tantangan Polri ke depan semakin kompleks,” tegasnya.

Tinggalkan komentar