Kegiatan menghias gapura dalam rangka memeriahkan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-78 Republik Indonesia pada 17 Agustus lalu, menjadi bukti nyata bahwa semangat gotong royong masih melekat kuat dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Proses mulai dari perencanaan, pengumpulan bahan, hingga pengerjaan gapura secara kolektif, membuka ruang interaksi dan kolaborasi antarwarga.
Lebih dari sekadar dekorasi, inisiatif menghias gapura ini di berbagai daerah bahkan berkembang menjadi sarana untuk menampilkan identitas lingkungan, kreativitas, serta kearifan lokal yang dimiliki. Hal ini tergambar jelas dalam Lomba Hias Gapura yang berhasil mengumpulkan sekitar 500 karya dari seluruh penjuru negeri, di mana 178 lingkungan atau perumahan mendapatkan dukungan untuk memeriahkan perayaan kemerdekaan di wilayah masing-masing.
Tiga karya terbaik berhasil terpilih sebagai pemenang utama, berasal dari Bandung, Yogyakarta, dan Malang. Penilaian lomba ini mencakup beberapa kriteria penting, termasuk tingkat kreativitas dalam desain, keterlibatan aktif warga dalam proses pengerjaan, serta unsur kearifan lokal yang berhasil diintegrasikan ke dalam rancangan gapura.
Gagasan Mural dan Gapura di Bandung
Di Bandung, warga tidak hanya berfokus pada pembangunan gapura, tetapi juga berkreasi dengan melukis mural di sepanjang tembok gang. Lukisan-lukisan tersebut secara artistik menggambarkan dinamika kehidupan sehari-hari masyarakat, termasuk kebiasaan saling membantu dan upaya menjaga kelestarian lingkungan.
Samsul Huda M, perwakilan warga Bandung yang berhasil meraih juara pertama, menjelaskan bahwa gagasan ini muncul dari keinginan kolektif warga untuk menciptakan sesuatu yang berbeda dan memiliki makna lebih mendalam setelah perayaan kemerdekaan usai. “Ide gapura ini muncul waktu kami membicarakan bagaimana caranya membuat 17-an tahun ini berbeda dari biasanya. Selain gapura, kami juga ingin membuat sesuatu yang lebih tahan lama, jadi kami sepakat bikin mural di sepanjang tembok gang yang menceritakan kehidupan sehari-hari warga,” ujarnya.
Menurut Samsul, pengerjaan gapura dan mural dilakukan secara bersama-sama dengan sistem pembagian tugas yang disesuaikan dengan kemampuan dan keahlian masing-masing warga. “Semua ini bisa diwujudkan karena gotong royong warga. Semua turun tangan bantu sesuai kemampuan masing-masing. Bagi saya kemenangan ini jadi pengingat soal semangat kebersamaan warga di sini,” katanya.
Gotong Royong dalam Beragam Bentuk
Sementara itu di Yogyakarta, warga memilih bambu sebagai material utama dalam pembuatan gapura. Pemilihan bambu didasari pada kedekatannya dengan kehidupan masyarakat serta filosofi kekuatan yang muncul ketika elemen-elemen sederhana disatukan.
Muh Rohmadi, perwakilan warga Yogyakarta yang meraih juara kedua, mengungkapkan bahwa konsep gapura bambu ini berangkat dari gagasan mengenai pentingnya kebersamaan. “Satu batang mungkin terlihat biasa, tapi kalau disatukan jadi kuat, seperti warga di sini. Gapura ini bukan cuma soal pintu masuk yang indah, tapi cerita bagaimana sesuatu yang sederhana bisa jadi luar biasa kalau dikerjakan bersama,” katanya.
Di Malang, warga memutuskan untuk memadukan unsur simbolik dengan sentuhan teknologi. Mereka menciptakan figur Garuda dengan sayap terbentang lebar dan menambahkan papan LED berjalan untuk menampilkan pesan-pesan terkait peringatan kemerdekaan.
Didik, perwakilan warga Malang, menuturkan bahwa pengerjaan gapura tersebut merupakan hasil kolaborasi seluruh masyarakat setempat. “Kami ingin gapura ini terlihat beda, makanya kami coba memadukan figur burung Garuda yang cukup besar dengan tulisan LED berjalan. Ini menandakan hasil kerja keras warga, semua dikerjakan bersama-sama,” ucapnya.
Interaksi Sosial dan Kebersamaan
Aktivitas menghias gapura ini secara gamblang menunjukkan bahwa semangat gotong royong tidak hanya tercermin pada hasil akhir yang memukau, tetapi juga sangat terasa dalam setiap tahapan prosesnya. Warga berkumpul, bertukar gagasan, membagi beban pekerjaan, hingga menyelesaikan berbagai kebutuhan teknis secara bersama-sama.
Lebih jauh, kegiatan semacam ini turut menjadi ruang penting untuk interaksi sosial antarwarga. Di tengah kesibukan aktivitas harian yang mungkin berbeda-beda, tujuan bersama dalam menghias gapura memungkinkan hubungan sosial di lingkungan tempat tinggal kembali terjalin erat.
Brand Manager SariWangi, Irene Limantara, menjelaskan bahwa lomba hias gapura ini menjadi wadah bagi warga dari berbagai daerah untuk berkumpul, berbagi ide, dan bekerja sama menciptakan karya yang merepresentasikan lingkungan mereka. “Unsur gotong royong menjadi salah satu pertimbangan dalam penilaian, selain kreativitas dan kearifan lokal,” ujarnya.
Selain tiga pemenang utama, penghargaan juga diberikan kepada sejumlah peserta dari Palembang, Makassar, Samarinda, Jakarta, Bandung, Banjarmasin, dan Malang. Lomba ini merupakan bagian dari rangkaian program peringatan kemerdekaan yang diselenggarakan oleh SariWangi, menunjukkan bahwa kegiatan sederhana di tingkat lingkungan masih dapat menjadi sarana efektif untuk menjaga kebersamaan dan praktik gotong royong di masyarakat.