Keluhan warga terkait masalah genangan banjir dan tumpukan sampah memicu lahirnya terobosan kreatif dari Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) Cipelang. Koperasi ini sukses merintis unit usaha pengolahan limbah plastik menjadi produk paving block bernilai ekonomi tinggi.
Inovasi lingkungan tersebut berawal dari keresahan masyarakat setempat yang kerap kebanjiran saat musim hujan tiba. Tumpukan sampah yang menyumbat aliran air di dataran rendah memancing simpati Ketua KDMP Cipelang Rita Puspita Sari. “Sebetulnya berawal dari keluhan masyarakat yang kebanjiran. Jadi, ada beberapa titik dataran rendah yang sering tergenang air,” kenang Rita pada keterangan tertulisnya, Kamis (17/9/2026).
Tingginya volume sampah di kawasan pendidikan setempat akhirnya memotivasi Rita untuk turun tangan langsung mencari solusi konkret. “Termasuk ada salah satu pesantren. Di suatu tempat itu, santrinya sempat mengeluh, ‘Ibu, ini hujan besar, sampahnya juga banyak’,” ungkap Rita.
Keresahan tersebut mendorong KDMP Cipelang untuk mengelola limbah rumah tangga masyarakat secara mandiri. Limbah plastik yang terkumpul disulap menjadi beragam produk fungsional seperti paving block, batako, roaster, hingga pupuk kompos organik.
Dalam kurun waktu seminggu, unit pengolahan limbah ini mampu memproduksi material hingga mencapai bobot satu ton. Kapasitas daur ulang plastik tersebut diklaim sanggup menghasilkan sekitar lima sampai sepuluh meter persegi paving block.
Keberhasilan mengolah sampah ini tercatat menjadi satu dari total tujuh unit usaha andalan milik KDMP Cipelang. Selain daur ulang, koperasi desa ini turut menjalankan bisnis percetakan, agen perbankan Mandiri, hingga fasilitas pemasaran produk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
Perkembangan pesat ini tidak lepas dari kehadiran lima kemitraan strategis yang dijalin langsung oleh pihak pengurus koperasi. Kelima mitra kerja tersebut mencakup pihak klinik, provider internet, produk cyber digital, dinas pemerintah, serta para peternak lokal.
Langkah ekspansi bisnis ini juga didukung penuh oleh strategi jemput bola dan perluasan jaringan kemitraan sejak awal berdiri. Rita menceritakan bagaimana kerja kerasnya membangun fondasi koperasi pada masa-masa awal. “Dari mulai keliling mencari anggota, dari RT ke RT, sampai akhirnya saya memutuskan untuk mencari link kemitraan. Saya harus menjalankan koperasi tanpa modal,” jelas Rita.
Menariknya, langkah digitalisasi operasional koperasi sudah diinisiasi hanya berselang satu bulan setelah akta pendirian terbit pada Mei 2025 lalu. Pengurus langsung menggandeng penyedia layanan internet lokal untuk memastikan kelancaran konektivitas sehari-hari. Ketersediaan jaringan ini langsung dimanfaatkan secara maksimal untuk mempromosikan seluruh kegiatan usaha melalui berbagai platform media sosial.
Akses konektivitas yang lancar terbukti mampu mendongkrak visibilitas promosi hingga menjangkau banyak pesanan dari luar Desa Cipelang. Pemanfaatan internet ini dinilai menjadi instrumen krusial dalam memperlancar komunikasi harian koperasi dengan para mitra dan pelanggan.
Langkah digitalisasi mandiri ini sejalan dengan agenda Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) yang terus mendorong transformasi koperasi di seluruh Indonesia. Pemanfaatan ekosistem digital dipastikan sanggup menjadi tulang punggung utama bagi akselerasi dan pengembangan bisnis desa secara berkelanjutan.