Saham Grup Djarum Berpotensi Menguat 50% Seiring Redanya Tekanan Merger

PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR), salah satu emiten Grup Djarum, menunjukkan sinyal positif dengan kemampuan meredam tekanan akibat merger PT XL Axiata Tbk (EXCL). Sebagian besar risiko terkait penghentian sewa lokasi menara atau site churn berhasil dikendalikan, memunculkan rekomendasi positif untuk saham TOWR dengan potensi kenaikan harga mencapai 50%.

Analis BRI Danareksa Sekuritas, Kafi Ananta dan Erindra Krisnawan, mengungkapkan bahwa kesepakatan yang dicapai dengan EXCL memungkinkan TOWR mempertahankan lokasi sewa tanpa mengalami churn. Selain itu, sisa masa kontrak sewa diperpanjang menjadi 12 tahun, meningkat dari sebelumnya sekitar tujuh tahun.

Dalam kesepakatan tersebut, TOWR menyetujui penyesuaian tarif sewa bulanan dari EXCL. Penyesuaian ini secara efektif menurunkan tarif sewa sebesar 7,5% dibandingkan tarif yang berlaku pada tahun 2025. Dampak operasional dari perubahan ini dinilai masih terbatas.

“Jumlah net collocation, yaitu penambahan bersih penyewa atau perangkat operator lain pada menara yang sama, hanya berkurang 552 unit antara kuartal II-2025 dan kuartal II-2026,” jelas Kafi dan Erindra dalam riset mereka pada Rabu (30/9/2026). Penurunan ini setara dengan kurang dari 10% dari estimasi lokasi EXCL yang tumpang tindih dalam portofolio TOWR.

Selain meredanya tekanan dari merger EXCL, BRI Danareksa Sekuritas melihat siklus investasi jaringan generasi kelima (5G) sebagai katalis positif berikutnya bagi Sarana Menara Nusantara. Potensi ini terutama terlihat melalui solusi fiber to the tower (FTTT), yang menyediakan sambungan serat optik langsung ke menara.

Tingkat fiberisasi menara TOWR telah mencapai 67% pada semester I-2026, melampaui rata-rata perusahaan sejenis di Indonesia yang berkisar 50%-60%. Namun, angka ini masih di bawah pencapaian negara tetangga seperti Thailand (90%) dan Malaysia (80%). Pentingnya serat optik semakin meningkat karena teknologi fiber backhaul mampu menyediakan kapasitas 10-40 gigabit per detik (Gbps), jauh melampaui sambungan microwave yang hanya sekitar 700 megabit per detik (Mbps). Kebutuhan satu stasiun basis 5G sendiri diperkirakan membutuhkan kapasitas sekitar 1-5 Gbps per lokasi.

Rekomendasi dan Target Harga Saham TOWR

BRI Danareksa Sekuritas memulai cakupan saham TOWR dengan rekomendasi buy dan menetapkan target harga Rp 610. Angka ini mengindikasikan potensi kenaikan harga saham sebesar 50% dari valuasi saat ini.

Target harga tersebut dihitung menggunakan metode discounted cash flow (DCF), yang mendasarkan valuasi pada nilai kini dari proyeksi arus kas masa depan. Target harga ini mencerminkan valuasi enterprise value (EV) terhadap pendapatan sebelum bunga, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) sebesar 6,6 kali untuk proyeksi tahun 2026.

BRI Danareksa Sekuritas menilai valuasi TOWR masih tergolong konservatif. Analisis reverse DCF menunjukkan bahwa harga pasar saat ini merefleksikan pertumbuhan terminal minus 2,2%, sementara proyeksi pertumbuhan laba tahunan majemuk (CAGR) antara 2026-2030 mencapai 7,9%.

Potensi konsolidasi PT Remala Abadi Tbk (DATA) diperkirakan dapat menambah sekitar 3,8% terhadap valuasi TOWR. Risiko utama yang perlu diwaspadai adalah pesanan fixed wireless access (FWA) yang lebih rendah dari ekspektasi, serta potensi kenaikan biaya bunga mengingat sekitar separuh utang Sarana Menara Nusantara menggunakan tingkat bunga mengambang.

Tinggalkan komentar