Saham GOTO Menguat Tajam di Tengah Lonjakan Transaksi, Investor Lokal Borong Rp 927 Miliar

JAKARTA – Saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) menunjukkan penguatan signifikan sebesar 7,14% ke level Rp 30 pada perdagangan Jumat, 2 Oktober 2026. Kenaikan ini terjadi setelah empat hari bursa sebelumnya saham emiten teknologi ini terus menerus mengalami auto rejection bawah (ARB).

Volume transaksi saham GOTO melonjak drastis pada hari tersebut. Berdasarkan data RTI, sebanyak 97,54 miliar saham GOTO ditransaksikan dengan frekuensi mencapai 172.259 kali, menghasilkan nilai transaksi total Rp 2,69 triliun.

Penguatan saham GOTO ini didorong oleh aksi penampungan saham dari tekanan jual investor asing yang besar. Investor yang berani melakukan pembelian dalam skala besar ini diproyeksikan memiliki dana yang memadai.

Berdasarkan data dari aplikasi Stockbit Sekuritas, investor domestik atau lokal tercatat melakukan aksi beli bersih (net buy) saham GOTO senilai Rp 927,6 miliar. Broker Semesta Indovest dan Ciptadana Sekuritas menjadi yang terdepan dalam aksi net buy untuk investor domestik, masing-masing dengan nilai Rp 228,3 miliar dan Rp 203,8 miliar. Selain itu, Supra Sekuritas, Samuel Sekuritas, dan Buana Capital juga mencatatkan net buy untuk investor domestik di saham GOTO, dengan rincian Rp 71,1 miliar, Rp 63,6 miliar, dan Rp 42,2 miliar.

Direktur dan Sekretaris Perusahaan GOTO, RA Koesoemohadiani, menjelaskan bahwa sesuai informasi publik yang tersedia, GOTO resmi keluar dari MSCI Global Standard Indexes per 31 Agustus 2026, berdasarkan hasil tinjauan indeks Agustus 2026. Keputusan MSCI untuk mengeluarkan GOTO dari indeks ini bersifat teknis, disebabkan oleh rendahnya volume perdagangan saham yang merupakan akibat langsung dari harga saham yang berada pada batas minimum Rp 50 di Bursa Efek Indonesia sejak Mei 2026. Koesoemohadiani menegaskan bahwa keputusan ini tidak mencerminkan kinerja perseroan.

Sebelumnya, GOTO juga resmi dikeluarkan dari FTSE Global Equity Index Series (GEIS) Mid Cap Index pada 22 Juni 2026. Keputusan FTSE ini didasari oleh pencatatan GOTO di papan pengembangan BEI yang dinilai tidak memenuhi kriteria masuk dalam FTSE GEIS.

Keluarnya GOTO dari kedua indeks tersebut memicu tekanan jual dari investor institusi asing, terutama dari reksa dana pasif (passive funds) yang menjadikan indeks MSCI dan FTSE sebagai acuan investasi. Mereka wajib menyesuaikan portofolio investasi mereka setelah saham GOTO dikeluarkan dari indeks, sehingga sejak Juni 2026 terjadi tekanan jual secara teknikal. Namun, rendahnya volume perdagangan membuat passive funds tidak dapat menjual saham perseroan di pasar reguler BEI.

Menurut RA Koesoemohadiani, sejak 28 September 2026, pemberlakuan peraturan baru BEI yang menurunkan batas bawah harga saham di pasar reguler dan pasar tunai dari Rp 50 menjadi Rp 1 per saham memberikan kesempatan bagi para pemegang saham yang telah menunggu untuk menjual sahamnya demi menyesuaikan portofolio. Hal ini kemudian menyebabkan fluktuasi harga saham perseroan.

“Perseroan meyakini bahwa harga saham perseroan saat ini tidak mencerminkan fundamental bisnis yang terus menerus menguat. Dinamika harga saham lebih disebabkan oleh berbagai aspek teknis sebagaimana telah dijelaskan oleh perseroan di atas,” ujar Koesoemohadiani.

Lebih lanjut, Koesoemohadiani mengungkapkan bahwa sehubungan dengan tindakan korporasi, GOTO telah memperoleh persetujuan untuk melakukan pembelian kembali saham (buyback) dengan alokasi dana sebanyak-banyaknya Rp 3,5 triliun. Program buyback ini akan berlangsung selama periode 19 Juni 2026 hingga 18 Juni 2027.

Tinggalkan komentar