Saham GOTO Diseserok Investor di Tengah Fluktuasi Harga Pasca Perubahan Batas Minimum Perdagangan

JAKARTA – Saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) mengalami penurunan tajam 13,51% hingga menyentuh batas auto reject bawah (ARB) di level Rp 32 pada sesi I perdagangan Rabu (30/9/2026). Meskipun demikian, volume transaksi saham GOTO di pasar reguler Bursa Efek Indonesia (BEI) justru menunjukkan peningkatan yang signifikan.

Sepanjang sesi I hari ini, tercatat sebanyak 799,15 juta saham GOTO diperdagangkan dengan frekuensi mencapai 7.201 kali, menghasilkan nilai transaksi sebesar Rp 25,57 miliar. Data dari aplikasi Stockbit Sekuritas per jeda siang menunjukkan adanya aksi beli bersih (net buy) senilai Rp 22,7 miliar pada saham emiten teknologi tersebut.

Penurunan tajam ini terjadi setelah BEI mengubah batas minimum harga saham dari Rp 50 menjadi Rp 1. Dalam dua hari bursa sebelumnya, saham GOTO juga selalu berada di zona ARB. Sejak Senin (28/9/2026) hingga sesi I hari ini, volume transaksi saham GOTO terus mengalami peningkatan.

Analis Kiwoom Sekuritas, Abdul Azis, menuturkan bahwa investor tidak perlu panik menghadapi pergerakan harga saham GOTO di bawah Rp 50. Menurutnya, pasar telah mengantisipasi peluang ini sejak rencana perubahan batas harga diumumkan. Ia menambahkan bahwa transaksi saham GOTO di pasar negosiasi pada harga di bawah Rp 50 sebelumnya dapat menjadi acuan dalam pembentukan harga di pasar reguler.

“Yang sedang terjadi adalah proses price discovery. Pasar mencari titik keseimbangan baru untuk saham GOTO dengan mempertemukan harga yang diinginkan penjual dan pembeli,” ujar Abdul Azis kepada media, Selasa (29/9/2026). Ia memperkirakan volatilitas masih akan terjadi selama proses pembentukan harga berlangsung. Namun, setelah tekanan jual mereda, perhatian pasar diperkirakan akan kembali bergeser pada fundamental perusahaan.

Pergeseran perhatian ke fundamental perusahaan ini sejalan dengan perbaikan kinerja GOTO sepanjang 2026. Perseroan berhasil membukukan laba bersih positif dalam dua kuartal berturut-turut, yaitu Rp 171 miliar pada kuartal I-2026 dan Rp 252 miliar pada kuartal II-2026. Pada kuartal II-2026, pendapatan bersih GOTO tumbuh 31% secara tahunan menjadi Rp 5,7 triliun. Selain itu, adjusted EBITDA telah menembus Rp 1 triliun, mengindikasikan perseroan berada di jalur yang tepat untuk mencapai target adjusted EBITDA 2026 sebesar Rp 3,2 triliun hingga Rp 3,4 triliun.

“Fundamental GOTO membaik, sementara harga saham sedang melewati fase penyesuaian,” kata Azis. Selain perbaikan kinerja, ruang aksi korporasi juga menjadi sorotan. GOTO memiliki anggaran maksimal Rp 3,5 triliun untuk program pembelian kembali saham atau buyback.

Abdul Azis berpendapat bahwa level harga yang lebih rendah saat ini bisa menjadi pertimbangan bagi perseroan dalam menentukan waktu pelaksanaan buyback, meskipun keputusan akhir tetap berada di tangan manajemen. “Di level harga sekarang, ini bisa menjadi waktu yang baik untuk buyback. Fundamental GOTO membaik, sementara harga saham sedang melewati fase penyesuaian. Meski begitu, pelaksanaannya tetap bergantung pada pertimbangan perusahaan,” ujarnya.

Amunisi lain yang dimiliki GOTO adalah rencana pembatalan sekitar 32 miliar saham treasuri. Rencana ini akan diajukan untuk persetujuan pemegang saham melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 14 Oktober 2026. Apabila disetujui dan dilaksanakan, saham treasuri tersebut tidak akan dilepas kembali ke pasar. CEO GOTO, Hans Patuwo, sebelumnya menyatakan bahwa pembatalan saham treasuri secara permanen akan mengurangi jumlah saham beredar dan meningkatkan persentase kepemilikan setiap pemegang saham secara proporsional.

Dengan demikian, setelah fase awal perubahan harga akibat penghapusan batas Rp 50, pasar kini memiliki sejumlah faktor yang dapat dicermati pada GOTO. Faktor-faktor tersebut meliputi potensi meredanya tekanan jual, keberlanjutan perbaikan kinerja, potensi buyback, hingga keputusan RUPSLB mengenai pembatalan saham treasuri. “Faktor-faktor tersebut akan menjadi perhatian pasar dalam menentukan arah saham GOTO setelah proses price discovery mulai menemukan keseimbangan baru,” pungkas Azis.

Tinggalkan komentar