Saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) mengalami penurunan tajam 14% hingga menyentuh batas auto rejection bawah (ARB) di level Rp 43 pada awal sesi perdagangan Senin (28/9/2026). Penurunan ini terjadi bertepatan dengan efektifnya perubahan aturan yang menghapus batas minimum harga saham dari Rp 50 menjadi Rp 1.
Volume antrean jual di harga Rp 43 melonjak, mencapai lebih dari 1 miliar lot saham atau senilai Rp 4,3 triliun pada sekitar pukul 09.41 WIB. Meskipun demikian, realisasi transaksi saham GOTO di pasar reguler masih tercatat tipis, dengan nilai transaksi sekitar Rp 3,19 miliar.
Head of Research Kiwoom Sekuritas, Liza Camelia Suryanata, memperkirakan bahwa tekanan jual pada saham GOTO kemungkinan akan berlanjut dalam beberapa hari mendatang. Menurutnya, pergerakan saham GOTO berada dalam pola parallel channel dengan support range di level 36-27.
“Jadi hampir bisa dipastikan GOTO mungkin akan menguji ke area tersebut,” ujar Liza dalam ulasannya, Senin.
Sebelumnya, Analis MNC Sekuritas Christian menilai perubahan aturan floor price dari Rp 50 menjadi dinamika baru bagi saham GOTO. Ia berpendapat bahwa penghapusan batas minimum harga memang berpotensi membuat harga saham GOTO bergerak di bawah Rp 50 dalam jangka pendek. Namun, hal ini justru dapat mengurangi hambatan perdagangan yang selama ini terjadi ketika saham berada di level Rp 50.
Eksklusi GOTO dari indeks FTSE dan MSCI mengharuskan rebalancing portofolio oleh passive fund yang mengikuti indeks tersebut. Proses ini dinilai kurang optimal jika harga GOTO tertahan di level Rp 50 karena ketidakseimbangan antara antrean jual dan beli.
Dengan adanya perubahan mekanisme harga, Christian berharap proses rebalancing oleh investor institusi dapat berjalan lebih normal. Namun, ia menekankan bahwa tekanan harga GOTO di bawah Rp 50 tidak serta-merta mencerminkan memburuknya fundamental perusahaan. Sebagian tekanan awal diperkirakan berasal dari faktor teknikal dan proses penyesuaian kepemilikan investor.
Selanjutnya, arah pergerakan saham GOTO akan lebih ditentukan oleh kemampuan perusahaan dalam mempertahankan pertumbuhan bisnis dan profitabilitasnya setelah tekanan awal mereda.