Saham GOTO Anjlok Setelah Batas Harga Minimum Dihapus, Investor Menahan Diri

Perdagangan saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) diwarnai aksi jual besar-besaran pada awal sesi I, Senin (28/9/2026). Emiten teknologi ini langsung dihantam penurunan 14% hingga menyentuh batas bawah auto reject (ARB) di level Rp 43. Penurunan ini terjadi bertepatan dengan diberlakukannya aturan baru Bursa Efek Indonesia (BEI) yang mengubah harga minimum saham GOTO dari Rp 50 menjadi Rp 1, efektif pada hari yang sama.

Antrean jual pada harga Rp 43 membeludak, mencapai lebih dari 1 miliar lot saham atau setara dengan nilai Rp 4,3 triliun pada pukul 09.03 WIB. Namun, data dari Stockbit Sekuritas menunjukkan tidak ada antrean beli yang signifikan, mengindikasikan investor masih menahan diri dan mempertimbangkan untuk mengakumulasi saham ini. Realisasi transaksi saham GOTO di pasar reguler BEI tercatat masih minim, baru mencapai kisaran Rp 1,88 miliar.

Analis MNC Sekuritas, Christian, sebelumnya menyatakan bahwa perubahan aturan batas harga minimum menjadi dinamika baru bagi saham GOTO. Ia berpendapat bahwa penghapusan batas harga Rp 50 berpotensi membuat harga saham GOTO bergerak di bawah level tersebut dalam jangka pendek. Namun, kondisi ini justru dapat mengurangi hambatan perdagangan yang selama ini dialami ketika saham tertahan di Rp 50.

Christian menambahkan, eksklusi GOTO dari indeks FTSE dan MSCI mengharuskan rebalancing portofolio oleh passive fund. Proses ini dinilai tidak optimal ketika harga GOTO tertahan di Rp 50 karena ketidakseimbangan antara antrean jual dan beli. Dengan perubahan mekanisme harga, Christian berharap proses rebalancing oleh investor institusi dapat berjalan lebih normal.

Meskipun demikian, tekanan harga GOTO di bawah Rp 50 tidak serta-merta dapat diartikan sebagai memburuknya fundamental perusahaan. Sebagian tekanan awal ini berpotensi berasal dari faktor teknikal dan proses penyesuaian kepemilikan investor. Setelah tekanan mereda, arah pergerakan saham GOTO akan lebih ditentukan oleh kemampuan perusahaan dalam mempertahankan pertumbuhan bisnis dan profitabilitasnya.

Tinggalkan komentar