Saham DAAZ Berpotensi Naik 138% Berkat Kontrak Strategis dengan Antam

JAKARTA – PT Daaz Bara Lestari Tbk (DAAZ) telah mengukuhkan posisinya sebagai mitra strategis PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dalam proyek hilirisasi nikel. Kemitraan ini juga membawa kontrak besar dari BUMN tambang tersebut, yang diprediksi akan menjadi amunisi penguatan saham DAAZ.

Berdasarkan riset Henan Putihrai Sekuritas (HPS), DAAZ, melalui mitra konsorsiumnya HYD Investment Limited, telah menandatangani framework agreement dengan ANTM dan Indonesia Battery Corporation (IBC). Kesepakatan ini bertujuan untuk menggarap proyek hilirisasi nikel, termasuk pengembangan baterai kendaraan listrik (EV). Fasilitas baterai ini ditargetkan memiliki kapasitas produksi 20 GWh dengan investasi sebesar US$ 6 miliar, menjadikannya salah satu yang terbesar di Asia.

HPS memperkirakan proyek ambisius ini akan membutuhkan pasokan bijih nikel dalam jumlah besar, yang secara langsung dapat mendongkrak bisnis perdagangan nikel perseroan.

Selain itu, DAAZ juga mendapatkan kontrak senilai Rp1,1 triliun dari Antam selama tiga tahun. Kontrak ini mencakup pemindahan material, hauling, pengembangan, dan loading di UPBN Konut, Sulawesi Tenggara. Lebih lanjut, terdapat kontrak senilai Rp3,95 miliar dari PT Gag Nikel, anak usaha Antam, untuk periode 12 bulan yang meliputi reklamasi Pulau Gag dan Raja Ampat.

HPS mempertahankan rekomendasi buy untuk saham DAAZ dengan target harga Rp3.900. Angka ini mencerminkan potensi kenaikan sebesar 138% dan alfa 118%, dengan valuasi EV/EBITDA 2026 sebesar 8,4 kali, yang masih di bawah rata-rata pesaingnya yang mencapai 14,6 kali.

Peningkatan valuasi ini didukung oleh ekspansi margin yang diharapkan melalui penambahan armada (fleet) dan keterlibatan aktif perseroan dalam proyek hilirisasi nikel. Langkah ini menandakan bahwa DAAZ turut serta dalam gelombang transisi energi global menuju kendaraan listrik.

Proyeksi HPS menunjukkan bahwa per Juni 2026, pendapatan DAAZ diproyeksikan naik 11,3% menjadi Rp6,9 triliun. Sementara itu, laba bersih setelah pajak diperkirakan tumbuh 6,1% menjadi Rp163 miliar.

Tinggalkan komentar