Saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) mengakhiri perdagangan Selasa (29/9/2026) dengan kenaikan tipis 0,25%, ditutup pada level Rp 4.030. Perdagangan saham emiten perbankan ini mencakup 189,54 juta unit dengan frekuensi transaksi mencapai 32.874 kali, menghasilkan nilai transaksi total Rp 764,07 miliar.
Meskipun ditutup menguat, saham BMRI masih mencatatkan aksi jual bersih (net sell) oleh investor asing senilai Rp 276,20 miliar pada hari yang sama. Tren jual bersih asing ini telah terjadi secara berkelanjutan sejak 18 September 2026 hingga penutupan perdagangan 29 September 2026.
Dalam sepekan terakhir, harga saham BMRI sendiri tercatat mengalami pelemahan sebesar 3,12%. Namun, di tengah aksi jual investor asing, terpantau adanya aksi serok atau pembelian oleh investor domestik. Selama periode 18-29 September, broker Stockbit Sekuritas, Mandiri Sekuritas, dan Mirae Asset Sekuritas tercatat membukukan aksi beli bersih (net buy) masing-masing sebesar Rp 367,9 miliar, Rp 282,3 miliar, dan Rp 171,8 miliar untuk investor domestik.
Analis KB Valbury Sekuritas, Akhmad Nurcahyadi, menyatakan bahwa pencapaian laba bersih Bank Mandiri pada paruh pertama 2026 (8M26) telah mencapai 66,4% dari estimasi KB Valbury untuk keseluruhan tahun 2026, dan 65,4% dari estimasi konsensus pasar. Angka realisasi ini dinilai melampaui rata-rata historis periode yang sama, yang berada di angka 63,4%.
“Kami meyakini BMRI masih berpeluang mencatat pertumbuhan laba yang sehat dalam beberapa bulan mendatang,” tulis Akhmad dalam risetnya.
Ia menambahkan, jika laba bersih Bank Mandiri pada September 2026 hanya menyamai perolehan September 2025 sebesar Rp 4,1 triliun, laba bank saja (bank only) pada kuartal III-2026 atau periode Juli–September 2026 (3Q26) diprediksi masih dapat tumbuh sebesar 9,4% secara year-on-year (yoy).
Secara konsolidasian, KB Valbury memperkirakan laba bersih emiten berkode saham BMRI pada 3Q26 akan mencapai Rp 13,46 triliun, sedikit di bawah proyeksi konsensus pasar sebesar Rp 13,97 triliun. Dengan asumsi tersebut, pertumbuhan laba BMRI secara kumulatif pada periode sembilan bulan pertama 2026 (9M26) diproyeksikan mencapai 16,3% yoy, atau sekitar 135 basis poin (bps) di bawah konsensus yang sebesar 17,7%.
Kinerja keuangan Bank Mandiri juga diperkirakan akan ditopang oleh pertumbuhan kredit sebesar 17,6% yoy dan dana pihak ketiga (DPK) sebesar 17,6%. Dana murah atau current account and savings account (CASA), yang meliputi giro dan tabungan, tercatat meningkat sebesar 8,2%.
Kualitas aset bank tetap terjaga dengan biaya kredit (cost of credit/CoC) sebesar 0,5%, angka ini berada di bawah panduan manajemen yang ditetapkan antara 0,6% hingga 0,8%. Sementara itu, tingkat pengembalian atas ekuitas (return on equity/RoE) mencapai 21,6%, menunjukkan peningkatan sebesar 2,9 poin persentase.
Namun, tekanan terhadap margin bunga bersih (net interest margin/NIM) diperkirakan masih berlanjut seiring dengan penurunan imbal hasil aset produktif. Meskipun demikian, KB Valbury mempertahankan rekomendasi buy untuk saham BMRI dengan menetapkan target harga Rp 5.660.
Target harga tersebut mencerminkan valuasi price to book value (P/B) sebesar 1,8 kali untuk proyeksi tahun 2026. Saat ini, saham BMRI diperdagangkan pada estimasi valuasi P/B 2026 sebesar 1,4 kali.