JAKARTA – Nilai tukar rupiah diprediksi kembali menghadapi tekanan pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada perdagangan Rabu, 30 September 2026. Prediksi ini muncul setelah rupiah ditutup melemah tipis pada perdagangan Selasa (29/9/2026).
Pada penutupan perdagangan Selasa sore, rupiah tercatat melemah 3 poin atau 0,02% ke level Rp 17.981 per dolar AS. Posisi ini sedikit membaik dari penutupan sebelumnya yang berada di Rp 17.978 per dolar AS.
Sebelumnya, kurs rupiah sempat mengalami pelemahan lebih dalam hingga 33 poin atau 0,18% ke level Rp 18.011 per dolar AS. Namun, dalam perjalanannya, rupiah sempat berbalik arah dan bergerak di kisaran Rp 17.900 per dolar AS.
“Sedangkan untuk perdagangan besok, mata uang rupiah bakal fluktuatif namun diprediksi melemah di rentang Rp 17.980 – Rp 18.030 per dolar AS,” ungkap Direktur PT. Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi dalam keterangan tertulis yang diterima pada Selasa (29/9/2026).
Ibrahim memaparkan, rupiah kesulitan keluar dari zona merah akibat tekanan yang belum mereda dari sentimen geopolitik. Isu-isu geopolitik ini memicu harga minyak dunia tetap bertahan pada level tinggi.
Tingginya harga minyak dunia menimbulkan kekhawatiran terhadap keseimbangan fiskal Indonesia. Selain itu, dari sisi eksternal, harga minyak yang tinggi juga mendorong pasar untuk memperhitungkan kemungkinan pengetatan kebijakan moneter lanjutan oleh The Fed. Hal ini menyusul kenaikan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin yang telah dilakukan pada 15-16 September 2026.
“Selain itu, komentar dari para pejabat The Fed juga akan dipantau untuk mendapatkan petunjuk mengenai langkah kebijakan bank sentral selanjutnya,” ujar Ibrahim.
Berdasarkan data CME FedWatch, pasar kini melihat adanya peluang sebesar 70% untuk kenaikan suku bunga pada pertemuan The Fed di bulan Oktober mendatang. Peluang ini menguat menyusul serangkaian pernyataan bernada hawkish dari para pejabat bank sentral Amerika Serikat pada pekan lalu.