Nilai tukar rupiah (IDR) terhadap dolar Amerika Serikat (USD) kembali melemah dan menembus level psikologis Rp 18.000 per dolar AS pada Selasa siang, 29 September 2026. Data pasar spot exchange pada pukul 12.18 WIB menunjukkan pelemahan sebesar 33 poin atau 0,18% ke angka Rp 18.011 per dolar AS.
Sebelumnya, rupiah telah dibuka melemah di level Rp 17.997 per dolar AS pada Senin pagi, 28 September 2026, dengan pelemahan 19 poin atau 0,11%. Pergerakan ini menunjukkan tren pelemahan yang terus berlanjut.
Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa pelemahan rupiah dipicu oleh sentimen negatif dari gejolak harga minyak dunia yang meningkatkan kekhawatiran terhadap keseimbangan fiskal. Kenaikan harga minyak sempat melonjak lebih dari US$ 4 per barel pada awal perdagangan, meskipun kemudian mereda seiring harapan adanya pembicaraan damai antara Amerika Serikat dan Iran.
Ibrahim memprediksi harga minyak dunia berpotensi menembus US$ 90 hingga US$ 100 per barel dalam waktu dekat. “Kenaikan harga minyak mentah dunia akan berdampak terhadap biaya transportasi, logistik, ekspetasi inflasi dan rupiah,” ujarnya.
Menurutnya, dampak utama dari kenaikan harga minyak adalah pada masalah fiskal. “Beban energi yang berpotensi membesar ini akan membuat kebutuhan dolar yang cukup besar untuk memenuhi kuota impor energi,” jelas Ibrahim dalam keterangannya pada Selasa (29/9/2026).
Lebih lanjut, Ibrahim menyoroti pergerakan rupiah yang dinilai tidak wajar sejak penutupan perdagangan Senin (28/9/2026). Rupiah sempat menguat 13 poin ke level Rp 17.902 per dolar AS pada penutupan pukul 15.05 WIB. Namun, selang beberapa menit, pelemahan kembali tercatat hingga 75 poin ke level Rp 17.978 per dolar AS. “Artinya ada perubahan atau permainan angka, ini yang perlu ditinjau dan diamati kembali,” ungkap Ibrahim.