Resesi AS Mengintai, Emas dan Bitcoin Jadi Pilihan Investasi

Sinyal perlambatan ekonomi Amerika Serikat (AS) kembali menjadi perhatian setelah kurva obligasi pemerintah AS bergerak makin dekat menuju inversi. Kondisi ini muncul ketika ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed) berbalik arah di tengah tekanan geopolitik yang berkepanjangan.

Head of Research Pluang, Jason Gozali mengatakan bahwa perubahan kurva obligasi tersebut perlu dicermati investor, meskipun kemampuan inversi kurva dalam memprediksi resesi tidak selalu akurat. Karena itu, Pluang mempertahankan target harga emas US$ 5.200 dan bitcoin (BTC) US$ 100.000 dalam 12 bulan.

Perubahan ekspektasi pasar terhadap suku bunga berlangsung signifikan sejak konflik AS-Israel dengan Iran pecah pada akhir Februari 2026. Serangan AS dan Israel terhadap Iran dimulai pada 28 Februari dan kemudian berkembang menjadi konflik regional.

Sebelum konflik tersebut, pelaku pasar memperkirakan rangkaian pemangkasan suku bunga yang berpotensi menekan imbal hasil obligasi jangka pendek. Kini, ekspektasi bergeser ke kemungkinan kenaikan suku bunga lanjutan.

“Sinyal dari kurva obligasi makin penting karena dampaknya mulai terlihat di sektor perbankan. Indeks perbankan besar AS, KBW Bank Index, telah memasuki koreksi teknikal, mencerminkan kekhawatiran terhadap margin bunga bersih ketika kurva imbal hasil makin datar,” kata Jason di Jakarta, Senin.

Kendati demikian, dia mengingatkan sinyal inversi kurva bukan indikator yang sempurna. Akurasinya sempat diperdebatkan setelah sinyal tersebut tidak diikuti resesi pada 2022.

Namun, kombinasi kebijakan The Fed yang lebih agresif dibandingkan ekspektasi dan tekanan geopolitik yang berlarut-larut tetap menjadi alasan untuk menjaga kewaspadaan dalam jangka menengah.

Dalam kondisi tersebut, Pluang masih melihat ketidakpastian arah kebijakan The Fed sebagai faktor yang mendukung minat terhadap aset di luar dolar AS.

“Kami mempertahankan target harga emas US$ 5.200 dan bitcoin (BTC) US$ 100.000 dalam 12 bulan, melihat ketidakpastian arah kebijakan The Fed sebagai argumen berkelanjutan bagi aset di luar dolar AS,” pungkasnya.

Tinggalkan komentar