Rahayu Saraswati Pentaskan Monolog “Kalau Bukan Aku”, Angkat Isu Perdagangan Orang

Pertunjukan tunggal berjudul ‘Kalau Bukan Aku’ yang dibawakan oleh Rahayu Saraswati Djojohadikusumo membawa penonton menyelami cerita tentang kehilangan, perdagangan manusia, trauma, dendam, serta pergulatan batin ketika keadilan terasa tertunda. Monolog ini dipentaskan dalam lima babak di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada Jumat (25/9).

Selama kurang lebih 90 menit, penonton diajak merenungkan pertanyaan mendasar: ‘Jika hukum datang terlambat, dapatkah dendam menyamar sebagai keadilan?’ Pertanyaan ini menemani perjalanan tokoh utama yang diperankan langsung oleh Rahayu Saraswati, yang juga bertindak sebagai penulis dan sutradara.

‘Kalau Bukan Aku’ merupakan karya monolog perdana Rahayu Saraswati. Pertunjukan ini dikemas dalam genre drama misteri psikologis atau psychological thriller, membawa penonton larut dalam alur cerita yang penuh ketegangan.

Kemampuan Rahayu dalam membawakan cerita sendirian di atas panggung terlihat jelas melalui perubahan emosi, gestur, dan intensitas permainan yang ia tunjukkan. Suasana pertunjukan yang awalnya tenang berangsur-angsur meningkat menuju ketegangan dan kemarahan, memunculkan pertanyaan moral yang semakin kompleks.

Salah satu kerabat Rahayu, Andrew J. Jules Soebali, mengapresiasi kekuatan karya tersebut yang berhasil menghubungkan persoalan besar dengan pengalaman manusiawi. “Yang kuat dari karya ini adalah kita tidak hanya diajak mengetahui adanya persoalan, tetapi ikut memahami dampaknya terhadap korban dan keluarga, dari pemahaman itu, kepedulian dapat tumbuh menjadi tanggung jawab,” ujar Andrew dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (26/09/2026).

Kehadiran Andrew dalam pertunjukan tersebut juga menjadi bentuk dukungan keluarga. Ia melihat karya ini memiliki makna yang lebih luas. “Sebagai keluarga, tentu saya hadir untuk memberikan dukungan kepada Sara namun, setelah menyaksikan gagasan yang dibawanya, saya melihat karya ini memiliki makna yang lebih luas. Pertunjukan ini mengingatkan kita bahwa dukungan keluarga penting, baik bagi mereka yang berani menyuarakan persoalan maupun bagi korban yang sedang berusaha memulihkan kehidupannya,” tuturnya.

Pertunjukan ‘Kalau Bukan Aku’ turut dihadiri oleh berbagai tokoh publik, termasuk Menteri Kebudayaan Republik Indonesia Fadli Zon, Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah Republik Indonesia Maman Abdurrahman, Menteri Pariwisata Republik Indonesia Widiyanti Putri Wardhana, serta Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia Veronica Tan.

Keluarga Sigar, yang diwakili oleh Philip Frederik Laurens Sigar, juga memberikan apresiasi atas keberanian Rahayu Saraswati mengangkat isu perdagangan orang melalui seni pertunjukan. Dukungan dari keluarga dan orang-orang terdekat menjadi elemen penting dalam perjalanan Rahayu dalam menyajikan karya yang mengangkat isu berat dan emosional ini.

Tinggalkan komentar