JAKARTA – Analis dari Heraeus membeberkan proyeksi pergerakan pasar emas di Asia menjelang akhir tahun 2026, yang diperkirakan akan menunjukkan tren beragam di antara negara-negara konsumen utama.
Menurut catatan Heraeus, China berpotensi menggandakan impor emasnya pada tahun 2026 dibandingkan tahun sebelumnya, bahkan mencatatkan rekor tertinggi dalam dekade ini. Pada Agustus 2026, China mengimpor 142 ton emas, membawa total impor delapan bulan pertama mencapai 1.141 ton. Angka ini meningkat 72% dibandingkan periode yang sama tahun lalu (663 ton) dan telah melampaui total impor sepanjang tahun 2025 yang hanya 940 ton.
Di sisi lain, India diprediksi akan mengalami tekanan pada permintaan emasnya. Musim monsun yang lemah di India diperkirakan akan menekan permintaan di wilayah pedesaan, yang biasanya menyumbang lebih dari 50% total konsumsi emas batangan di negara tersebut. Hingga akhir September, curah hujan tercatat sekitar 15% di bawah rata-rata jangka panjang, yang berisiko menurunkan pendapatan masyarakat pedesaan dan berdampak pada pembelian emas.
Analisis historis World Gold Council (WGC) menunjukkan korelasi positif antara curah hujan dan permintaan emas. Peningkatan 1% curah hujan di atas rata-rata berkorelasi dengan kenaikan permintaan emas sebesar 0,2%. Dengan demikian, defisit curah hujan tahun ini diprediksi menjadi faktor penghambat moderat bagi permintaan emas India. Pada tahun 2025, permintaan emas India tercatat sebesar 768 ton, sekitar 15% dari total permintaan global.
Sementara itu, di Indonesia, Heraeus menyoroti usulan skema insentif pemerintah untuk mengalihkan kepemilikan emas swasta ke dalam sistem keuangan formal. Diperkirakan, rumah tangga di Indonesia menyimpan sekitar 1.800 ton emas di luar saluran investasi formal. Pemerintah mendorong lembaga negara untuk mengarahkan sekitar 20% dari jumlah tersebut, atau setara 360 ton, masuk ke layanan perbankan syariah dan produk keuangan lainnya.
Inisiatif ini bertujuan mengubah emas masyarakat menjadi simpanan, agunan, dan aset keuangan, sekaligus memperdalam pasar emas batangan domestik serta meningkatkan peredaran kekayaan rumah tangga dalam sistem keuangan.
Dari sisi produksi, kinerja tambang emas di Australia dilaporkan terus meningkat pada tahun fiskal 2025-26, didukung oleh harga komoditas yang tinggi. Australia memproduksi 303 ton emas hingga akhir tahun fiskalnya pada Juni, sejalan dengan rata-rata produksi tahunan sekitar 300 ton. Peningkatan produksi terjadi di sebagian besar lokasi tambang, dengan beberapa produsen skala kecil juga mulai beroperasi. Produksi emas Australia ini mencakup sekitar 8% dari total pasokan emas hasil tambang dunia yang mencapai 3.822 ton pada tahun 2025.