Analis memproyeksikan harga emas memiliki prospek cerah untuk kuartal terakhir 2026, meskipun pasar terus dihadapkan pada berbagai tekanan. Proyeksi ini muncul di tengah volatilitas yang terjadi sepanjang kuartal ketiga tahun ini.
Selama kuartal ketiga 2026, harga emas bergerak fluktuatif antara US$ 4.000 hingga US$ 4.500 per troy ounce. Investor cenderung menahan diri untuk melakukan pembelian saat harga turun, menyebabkan volatilitas mereda. Tekanan pasar datang dari inflasi Amerika Serikat, penurunan imbal hasil obligasi, serta kebijakan moneter global yang ketat.
Fawad Razaqzada, Analis Pasar di FOREX.com, mengungkapkan bahwa lonjakan imbal hasil obligasi memang meningkatkan biaya peluang bagi investor yang memegang emas, yang merupakan aset tanpa imbal hasil. Namun, faktor ini ternyata tidak cukup kuat untuk memicu aksi jual yang lebih tajam. “Mengingat ketahanan emas di tengah kondisi makro yang seharusnya menantang, logam mulia ini berpotensi mencatatkan kinerja yang lebih cemerlang pada kuartal keempat,” katanya, dikutip dari Kitco News, Minggu (4/10/2026).
Razaqzada melihat adanya potensi pemulihan harga emas menjelang akhir tahun. “Garis resistansi berada di kisaran level US$ 4.400 per troy ounce, menjadikannya titik krusial untuk dipantau pada kuartal keempat 2026,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa penembusan di atas level resistansi tersebut dapat mendorong harga emas menuju US$ 4.500 pada tahap awal. “Sebelum kemudian mengarah ke area US$ 4.700 per troy ounce; level yang berada tepat di atas puncak harga bulan Agustus di angka US$ 4.696,” tuturnya.
Jika harga emas mampu bertahan di atas level US$ 4.700, maka level berikutnya dari perspektif bullish adalah US$ 5.000 per troy ounce. “Oleh karena itu, kami memiliki pandangan yang optimis namun hati-hati terhadap prospek emas di sisa tahun ini,” imbuh Razaqzada.
Faktor geopolitik juga berpotensi memberikan dorongan. Razaqzada menyebut, potensi kesepakatan terkait dibukanya Selat Hormuz dapat mendorong bank sentral untuk menunda atau menghentikan kenaikan suku bunga. Hal ini pada gilirannya dapat membuat kinerja emas semakin menguat.
Selain faktor suku bunga dan imbal hasil obligasi, Razaqzada memprediksi harga emas akan terus mendapatkan dukungan kuat dari permintaan bank sentral yang diyakini berlanjut hingga kuartal keempat 2026. “Kemungkinan besar aksi pembelian terus berlanjut sepanjang sisa kuartal ketiga,” ujarnya.
Mengingat gejolak di pasar obligasi, Razaqzada tidak menutup kemungkinan adanya diversifikasi lebih lanjut ke emas oleh bank-bank sentral utama di sisa tahun ini. Selain itu, langkah untuk beralih dari kepemilikan obligasi pemerintah AS (US Treasurys) juga diperkirakan akan terus menopang harga emas.