Prospek laba PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) mengalami revisi penurunan untuk periode 2026 hingga 2028, yang juga berimbas pada pemangkasan target harga sahamnya. Penurunan ini dipicu oleh tekanan pada margin bisnis hilir perusahaan serta kenaikan biaya operasional yang diperkirakan akan terus berlanjut.
Estimasi laba bersih MBMA untuk tahun buku 2026, 2027, dan 2028 masing-masing dipangkas sebesar 34,2%, 63,9%, dan 68,6%. Analis BRI Danareksa Sekuritas, Andhika Audrey, menjelaskan bahwa revisi ini terutama dipengaruhi oleh asumsi harga jual rata-rata (average selling price/ASP) produk hilir yang lebih rendah serta biaya yang lebih tinggi.
“Tekanan itu turut mendorong penurunan target harga saham MBMA,” ujar Andhika dalam risetnya, Selasa (29/9/2026).
Meskipun demikian, di sisi operasional, MBMA mencatatkan kinerja yang positif pada kuartal II-2026. Pendapatan perusahaan mencapai US$ 592,6 juta, tumbuh 30% secara kuartalan (qoq) dan melonjak 127% secara tahunan (yoy). Untuk semester I-2026, pendapatan mencapai US$ 1,05 miliar atau naik 67% yoy. Namun, realisasi ini baru setara dengan 39% dari estimasi BRI Danareksa dan 40% dari konsensus untuk tahun 2026.
Laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) Merdeka Battery Materials pada semester I-2026 mencapai US$ 310,6 juta, yang merupakan peningkatan signifikan sebesar 306% yoy. Sementara itu, laba bersih MBMA pada periode yang sama tercatat US$ 54,4 juta, melonjak 830% yoy. Kendati demikian, angka ini baru memenuhi 35% dari estimasi BRI Danareksa dan 33% dari konsensus.
Perusahaan melaporkan margin kas saprolit mencapai US$ 26,7 per wet metric tonne (wmt), sedangkan limonit sebesar US$ 10,4 per wmt. Namun, kondisi ini tertahan oleh pelemahan margin nickel pig iron (NPI) dan high grade nickel matte (HGNM).
Target Harga MBMA Turun
BRI Danareksa Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli untuk saham MBMA, namun menurunkan target harga berbasis sum of the parts (SOTP) menjadi Rp 710 dari sebelumnya Rp 880. Penurunan target harga ini mencerminkan revisi turun estimasi laba tahun 2026 hingga 2028 akibat asumsi harga komoditas yang lebih rendah dan biaya operasional yang lebih tinggi.
Estimasi EBITDA 2026 justru dinaikkan 3,2%. Namun, proyeksi EBITDA 2027 dan 2028 dipangkas masing-masing sebesar 38,9% dan 45,9%. Risiko utama yang dihadapi perusahaan meliputi volatilitas harga nikel, tekanan lanjutan pada margin hilir, harga sulfur yang berada di kisaran US$ 900–1.100 per ton, keterbatasan kuota bijih, serta potensi keterlambatan peningkatan produksi high pressure acid leach (HPAL).