JAKARTA – Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) mengambil langkah strategis untuk memperkuat sistem pembinaan karier personelnya. Integrasi teknologi seperti TalentDNA, Assessment Center, rekam jejak, Satu Data Polri, dan Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/AI) menjadi fokus utama untuk membangun sumber daya manusia (SDM) yang utuh, objektif, dan mampu mengidentifikasi potensi serta integritas setiap personel.
Langkah ini dibahas dalam pertemuan antara Wakil Kepala Kepolisian RI (Wakapolri) Komjen Pol. Dedi Prasetyo dengan Pendiri ESQ Ary Ginanjar Agustian di Markas Besar Polri, Jakarta. Pertemuan tersebut menekankan pentingnya penguatan integritas sebagai fondasi utama dalam pembinaan SDM, termasuk pada jenjang Perwira Tinggi (Pati) Polri.
Integritas Menjadi Fondasi Utama Pembinaan Karier
Salah satu agenda penting yang dibahas adalah penguatan integritas dalam pembinaan SDM, khususnya bagi para Pati Polri. Dalam pertemuan tersebut, dipaparkan hasil Assessment Center yang telah dilakukan terhadap 100 Pati Polri, di mana 96 di antaranya telah mengikuti proses penilaian ini. Penilaian dilakukan secara objektif dan berbasis data, mencakup berbagai aspek seperti kompetensi, pengalaman, kinerja, serta rekam jejak personel.
Hasil pemetaan ini tidak dimaksudkan untuk menghakimi, melainkan untuk memberikan gambaran menyeluruh mengenai kekuatan dan area yang memerlukan pengembangan pada kompetensi kepemimpinan. Beberapa area yang menjadi perhatian untuk terus diperkuat meliputi integritas, komitmen terhadap organisasi, perencanaan dan pengorganisasian, pengambilan keputusan, pengelolaan perubahan, serta pengawasan. Wakapolri menekankan bahwa hasil assessment tidak boleh dilihat secara terpisah, melainkan harus diintegrasikan dengan berbagai sisi lain dari seorang personel.
“Assessment adalah salah satu instrumen. Hasilnya harus dilihat bersama rekam jejak, perjalanan karier, kinerja, pemetaan psikologi, data Propam, hasil pengawasan Itwasum, serta sumber informasi lainnya,” jelas Komjen Dedi Prasetyo. Ia menambahkan bahwa assessment juga harus berfungsi sebagai ruang umpan balik bagi setiap pemimpin untuk memahami kekuatan dan area yang dapat dikembangkan secara berkelanjutan.
Menyiapkan Pemimpin Berkualitas Sejak Pendidikan
Penguatan SDM di lingkungan Polri tidak hanya dimulai saat personel mencapai jenjang karier tertentu, melainkan juga dibangun sejak dari lembaga pendidikan, termasuk di Akademi Kepolisian (Akpol). Polri berupaya agar proses ini dimulai sejak dini untuk mempersiapkan calon pemimpin masa depan.
“Negara-negara maju mempersiapkan calon pemimpinnya sejak proses pendidikan. Karena itu, pembenahan sistem pendidikan menjadi salah satu kunci agar organisasi mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman,” ujar Dedi. Pendidikan Polri ke depan akan diarahkan tidak hanya pada kemampuan teknis dan hafalan, tetapi juga pada pembangunan karakter, integritas, cara berpikir kritis, kemampuan mengambil keputusan, dan kesiapan menghadapi perubahan. Kualitas tenaga pendidik, termasuk dosen dan instruktur, juga menjadi perhatian agar mampu membentuk karakter peserta didik.
Ary Ginanjar menjelaskan tiga unsur penting dalam pendidikan: message, method, dan messenger. Ia menekankan bahwa substansi materi (message) sudah baik, namun metode (method) perlu dikembangkan agar pendidikan menyentuh ranah afektif, bukan hanya kognitif. Tenaga pendidik (messenger) juga harus mampu menyampaikan materi yang membentuk karakter dan integritas peserta didik.
TalentDNA untuk Mengenali Potensi Sejak Dini
Dalam pertemuan tersebut, dipaparkan pula hasil pemetaan TalentDNA terhadap 282 Taruna Akpol. Pemetaan ini bertujuan untuk mengukur potensi, karakter, kekuatan, dan area pengembangan masing-masing taruna secara lebih terukur. Hasil ini kemudian dapat dipadukan dengan data pendidikan, prestasi, kinerja, assessment, rekam jejak, dan pengembangan kompetensi untuk menciptakan pengembangan personel yang lebih personal sesuai potensi dan kebutuhannya.
ESQ mendorong pendekatan ‘talent-based personalization’, yang berarti pengembangan pendidikan dan karier tidak menggunakan pola yang sama untuk semua orang. “Setiap anggota memiliki nilai dan potensi masing-masing. Karena itu, pengembangan talenta perlu disesuaikan dengan karakter dan kebutuhan individu,” ujar Ary. Pendekatan ini diharapkan dapat membantu Polri menyiapkan calon pemimpin sejak dini dan memberikan ruang bagi setiap personel untuk mengembangkan potensi terbaiknya.
Penilaian Objektif Berbasis Data dan Analisis AI
Penguatan sistem penilaian dilakukan secara berkelanjutan, baik untuk taruna Akpol maupun Pati Polri. Setiap proses diarahkan untuk menggunakan indikator yang jelas, data yang relevan, serta metode assessment yang dapat dipertanggungjawabkan. AI akan berperan sebagai alat bantu untuk menganalisis berbagai data secara lebih cepat dan komprehensif, membantu menemukan pola, memetakan potensi, mengidentifikasi kebutuhan pengembangan, serta menyajikan informasi pendukung bagi pimpinan. Namun, keputusan akhir pembinaan dan karier tetap berada pada kewenangan pimpinan, dengan mempertimbangkan aspek profesionalitas, kepemimpinan, integritas, kebutuhan organisasi, serta ketentuan yang berlaku.
Satu Data Polri dan AI akan menjadi pendukung utama dalam optimalisasi pembinaan SDM. Berbagai informasi personel akan diolah untuk menghasilkan gambaran yang lebih lengkap. ESQ mengusulkan pilot project pemanfaatan Agentic AI untuk membantu mengolah data tersebut, yang akan membantu menemukan pola, memetakan potensi, mengidentifikasi kebutuhan pengembangan, dan menyajikan informasi yang relevan bagi pimpinan. Namun, teknologi ini tetap ditempatkan sebagai alat bantu, bukan pengambil keputusan.
Pengembangan sistem ini juga akan memperhatikan aspek keamanan data, hak akses, akurasi informasi, serta etika penggunaan teknologi.
Menyiapkan SDM untuk 20-30 Tahun ke Depan
Komjen Dedi Prasetyo menegaskan bahwa pembangunan SDM merupakan investasi jangka panjang yang akan menentukan kualitas kepemimpinan Polri di masa depan. “Kalau kita ingin membangun organisasi untuk 20 sampai 30 tahun ke depan, fondasinya harus disiapkan sejak sekarang. Pendidikan, pembinaan SDM, integritas, dan kepemimpinan merupakan investasi jangka panjang organisasi,” katanya.
Penguatan sistem ini merupakan tindak lanjut dari Memorandum of Understanding (MoU) antara Polri dan ESQ. Melalui kerja sama ini, ESQ siap mendukung Polri dalam pengembangan SDM, mulai dari pendidikan, pemetaan talenta, pengembangan kepemimpinan, pembinaan karakter dan integritas, hingga pemanfaatan teknologi dalam pengelolaan SDM.
“Kami siap mendukung Polri dalam membangun SDM yang adaptif, berkarakter, dan mampu menghadapi tantangan menuju Indonesia Emas,” ujar Ary Ginanjar. Ke depan, Polri dan ESQ akan mendalami sejumlah program, termasuk pilot project integrasi Agentic AI dengan Satu Data Polri, pengembangan TalentDNA, penyusunan Leadership Passport, evaluasi Assessment Center, serta penguatan sistem pendidikan berbasis talenta. Langkah ini merupakan bagian dari upaya Polri membangun SDM yang berintegritas, profesional, adaptif, dan siap menjadi pemimpin yang mampu menjawab tantangan Polri di masa depan.