Pergerakan Saham Grup Haji Isam di BEI: Ada yang Meroket, Ada yang Tertekan

JAKARTA – Pengusaha Andi Syamsuddin Arsyad, yang akrab disapa Haji Isam, memiliki sejumlah saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan performa yang beragam sepanjang tahun berjalan hingga 2 Oktober 2026. Sebagian emiten yang terafiliasi atau dimiliki oleh Haji Isam menunjukkan tren positif, namun ada pula yang mengalami tekanan.

PT Abadi Nusantara Hijau Investama Tbk (PACK) tercatat sebagai saham dengan kenaikan paling signifikan, mencapai 133,88% year to date (YTD). Harga saham PACK saat ini berada di level Rp 428.

Namun, lonjakan kinerja PACK perlu dicermati dalam konteks aksi korporasi yang dilakukannya. Pada Januari 2026, PACK melaksanakan aksi penawaran umum terbatas (rights issue) dengan rasio 5 saham lama untuk setiap 102 saham baru, yang dicatat oleh Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) pada 13 Januari 2026.

Selain PACK, saham PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR) juga mencatatkan penguatan sebesar 5,88% YTD, naik dari Rp 3.230 menjadi Rp 3.420. Saham PT Dana Brata Luhur Tbk (TEBE) juga mengalami kenaikan tipis, yaitu 3,07%, dari Rp 2.610 menjadi Rp 2.690.

Saham PT Rans Entertainment Indonesia Tbk (RANS) menguat 5,88% YTD, dari Rp 170 menjadi Rp 180. Haji Isam diketahui memiliki 1% saham di RANS dan turut hadir saat emiten tersebut melakukan pencatatan saham perdana di BEI pada Juli 2026.

Dengan demikian, PACK dapat dianggap sebagai lokomotif dalam hal kenaikan harga saham di antara portofolio yang terafiliasi dengan Haji Isam, meskipun dampaknya perlu dianalisis bersama dengan aksi korporasi yang telah disebutkan.

Ada Saham yang Mengalami Penurunan

Di sisi lain, beberapa saham yang masuk dalam gerbong bisnis Haji Isam justru menunjukkan kinerja negatif. Saham PT Pradiksi Gunatama Tbk (PGUN) mengalami penurunan sebesar 4,35% YTD, dari Rp 9.775 menjadi Rp 9.350.

Saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) juga terkoreksi cukup dalam, yaitu 25,16%, dari Rp 15.700 menjadi Rp 11.750. Keterkaitan BYAN dengan Haji Isam berasal dari rencana pengalihan 30% saham perusahaan kepada PT Jhonlin Baratama, yang saat ini masih dalam status bersyarat.

Tekanan yang lebih signifikan terjadi pada saham PT Fast Food Indonesia Tbk (FAST), yang anjlok 32,65% YTD. Harga sahamnya turun dari Rp 585 menjadi Rp 394. FAST memiliki keterkaitan dengan jaringan bisnis Haji Isam melalui salah satu anak usahanya, sehingga statusnya berbeda dibandingkan emiten yang sahamnya dimiliki langsung atau berada dalam kelompok usaha Jhonlin.

Secara keseluruhan, pergerakan saham yang terkait dengan Haji Isam di Bursa Efek Indonesia menunjukkan hasil yang tidak seragam sepanjang 2026. PT PACK memimpin daftar kenaikan tertinggi, sementara PT FAST menjadi salah satu emiten yang mengalami tekanan terdalam hingga penutupan perdagangan 2 Oktober 2026.

Tinggalkan komentar