Harga emas global kini berada di bawah tekanan jual yang signifikan setelah membentuk pola grafik bearish. James Stanley, Senior Strategist di StoneX, mengemukakan bahwa emas sedang menghadapi ujian krusial di kisaran US$ 4.000 per ons troi. Jika level penting ini tidak mampu bertahan, harga emas berpotensi melanjutkan tren penurunannya hingga menyentuh kembali level US$ 3.500 per ons troi.
Pada penutupan perdagangan Jumat (2/10/2026), harga emas dunia tercatat mengalami penurunan sebesar 0,88% dan berakhir di level US$ 4.140,68 per ons troi. Tekanan jual ini sudah terlihat sejak awal pekan sebelumnya, ketika harga emas sempat anjlok hampir 4% dalam satu sesi perdagangan. Pelemahan tersebut sempat membawa harga menguji zona antara US$ 4.104 hingga US$ 4.135 per ons troi sebelum akhirnya menunjukkan adanya pemulihan sesaat.
Namun, pemulihan tersebut tidak berlangsung lama. Menurut Stanley, kenaikan harga emas justru membentuk pola bullish channel yang kemudian berkembang menjadi pola bear flag di tengah sentimen pasar yang masih cenderung bearish. Tekanan jual kembali menguat setelah harga emas mencoba menembus area US$ 4.200 per ons troi. Bahkan setelah rilis data Nonfarm Payrolls (NFP) Amerika Serikat pada Jumat lalu, emas kembali menguji level tersebut namun kembali mendapat tekanan jual dan akhirnya turun menuju US$ 4.135 per ons troi.
“Struktur bearish masih tetap terbentuk pada harga emas,” ujar Stanley dalam analisisnya pada Minggu (4/10/2026). Ia menjelaskan bahwa pada grafik harian, pola lower-highs dan lower-lows masih mengarah pada pengujian area US$ 4.000 per ons troi. Level ini dinilai sangat penting karena sebelumnya pernah menjadi zona pertahanan yang kuat bagi emas selama periode Juni dan Juli.
Tekanan terhadap harga emas juga tercermin dari pola bearish engulfing yang terbentuk pada perdagangan Jumat. Stanley berpendapat bahwa pola ini seringkali diikuti oleh kelanjutan penurunan harga, sehingga membuka peluang bagi emas untuk menguji level US$ 4.100 per ons troi pada perdagangan pekan mendatang.
Benteng Support di US$ 4.000
Stanley menilai bahwa area US$ 4.000 per ons troi merupakan level yang sangat krusial dalam gambaran jangka panjang pergerakan harga emas. Selama periode Juni dan Juli, tidak ada satu pun candle mingguan yang ditutup di bawah level tersebut. Kondisi ini mengindikasikan adanya potensi akumulasi oleh investor institusional yang berperan menopang harga emas.
“Karena itu, pengujian ke bawah US$ 4.000 per ons troi dalam perdagangan intraday masih berpotensi memicu pembalikan jangka pendek,” jelasnya. Namun, situasinya akan berubah drastis jika emas berhasil menembus zona tersebut secara meyakinkan, terutama jika ditandai dengan penutupan candle mingguan di bawah US$ 4.000 per ons troi.
Jika hal tersebut terjadi, Stanley memprediksi bahwa tesis support di US$ 4.000 per ons troi akan kehilangan daya tariknya. Hal ini akan membuka ruang yang lebih luas bagi kelanjutan tren bearish. “Jika dan ketika zona tersebut jebol, hal itu akan menunjukkan potensi kelanjutan bearish menuju pengujian kembali US$ 3.500 per ons troi,” kata Stanley. Level US$ 3.500 per ons troi sendiri terakhir kali berperan sebagai level resistance pada tahun 2025, sebelum Ketua The Fed Jerome Powell memberikan sinyal kesediaannya untuk mendukung penurunan suku bunga pada tahun tersebut.