Pemuda Natuna Diduga Meninggal sebagai Tentara Bayaran Rusia, Pemkab Berkoordinasi dengan Kemlu

JAKARTA – Rendi, seorang pemuda asal Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau, dikabarkan meninggal dunia setelah diduga menjadi tentara bayaran yang membela Rusia. Pemerintah Kabupaten Natuna saat ini tengah berkoordinasi dengan Kementerian Luar Negeri (Kemlu) terkait kabar tersebut.

Informasi mengenai kondisi Rendi diperoleh dari pihak keluarga dan rekan-rekannya yang berada di Indonesia. Menurut Starki, Ketua RT 03 RW 01 Air Keruh, Kelurahan Ranai Darat, Kecamatan Bunguran Timur, Natuna, pihak keluarga menerima kabar duka tersebut melalui telepon dari seorang teman Rendi.

“Pihak keluarga dapat telepon dari kawannya yang di Indonesia, itu dia sudah meninggal,” kata Starki.

Starki menjelaskan bahwa Rendi meninggalkan Natuna sekitar tahun 2022 untuk mencari pekerjaan. Perjalanannya dimulai ke Tanjungpinang, kemudian Batam, dan akhirnya ke Jakarta. “Dia meninggalkan Ranai sekitar 2022. Tujuan awalnya ke Tanjungpinang, cari kerja. Setelah beberapa tahun di Tanjungpinang, ke Batam, kemudian ke Jakarta,” ujarnya.

Sebelumnya, keluarga masih mengetahui keberadaan Rendi saat ia bekerja di Filipina, bergerak di bidang jaringan atau internet. Namun, sekitar Februari-Maret 2026, keluarga mendapat informasi bahwa Rendi berada di Rusia. Berdasarkan informasi yang diterima, Rendi berangkat dari Jakarta menuju Dubai sebelum melanjutkan perjalanan ke Rusia sekitar Mei 2026.

Awalnya, keluarga mendapat kabar bahwa Rendi bekerja di Rusia bukan sebagai tentara, melainkan di bagian logistik makanan. “Jadi keterangan si Rendi ini, dia bekerja di Rusia itu bukan sebagai tentara bayaran, tapi sebagai pengantar logistik makanan,” ujar Starki.

Namun, belakangan Rendi bercerita kepada keluarganya bahwa dirinya akan dipindahkan dari pekerjaan logistik menjadi pasukan tempur. Menurut Starki, Rendi disebut tidak bersedia dengan pemindahan tersebut karena tidak sesuai dengan pekerjaan yang sebelumnya disepakati. “Dia menolak karena tidak sesuai dengan kontraknya. Setelah itu dia sudah pasrah, mau mundur tidak bisa, mau tidak mau ikut alur. Tidak bisa kembali ke Indonesia karena paspornya ditahan,” ungkapnya.

Setelah beberapa waktu berada di Rusia, komunikasi Rendi dengan keluarganya terputus. Keluarga sempat mengira telepon Rendi tidak aktif karena masalah baterai atau kondisi lainnya. Namun, kabar duka akhirnya datang dari rekan Rendi di Indonesia.

Bupati Natuna, Cen Sui Lan, merespons kabar ini dengan menyatakan bahwa Pemerintah Kabupaten Natuna tengah berkoordinasi dengan pihak keluarga. “Informasi yang kita dapatkan masih simpang siur. Tentunya kita mengharapkan, kalau memang sudah meninggal, apa solusinya supaya bisa segera dibawa kembali,” kata Cen Sui di rumah dinas Pemkab Natuna.

Bupati menambahkan pihaknya akan berkoordinasi dengan pemerintah pusat. “Tetapi kita tetap harus berkoordinasi dengan pusat, karena saya kan tidak mungkin bekerja sendiri. Keberangkatan almarhum juga tidak kita ketahui. Ada informasi beliau sudah pernah ke Filipina, kemudian ke Rusia. Apa pun itu, Pemerintah Kabupaten Natuna sangat berduka. Kami sangat berduka ada anak-anak kami yang harus sampai ke luar negeri sebagai tentara,” ujarnya.

Ia menekankan pentingnya koordinasi dengan Kemlu untuk mengusut hal ini dan menegaskan bahwa tidak boleh ada WNI yang menjadi tentara di negara mana pun. “Dan tentunya kita harus berhubungan dengan Kementerian Luar Negeri bagaimana penyelesaiannya. Dan perlu ditegaskan, apa pun itu, tidak boleh ada warga negara Indonesia menjadi tentara negara lain,” tegasnya.

Bupati Natuna menjelaskan bahwa pihaknya baru menerima informasi tersebut dua hari yang lalu dan telah meminta Kesbangpol untuk mengunjungi keluarga terkait. “Orang baru dapat kabarnya cuma 2 hari yang lalu. Iya, itu pun karena kita juga mendengarnya, kemudian kemarin saya suruh Kesbangpol sudah komunikasi dengan keluarganya,” ucapnya.

Hingga kini, motif pemuda yang dikabarkan menjadi tentara Rusia dan tewas saat perang terjadi masih belum diketahui. “Dan beliau sebenarnya kita juga nggak tahu apa motifnya, apakah benar menjadi tentara di sana atau menjadi. Ada informasi beliau hanya mengantar, mengantar ini ya, sebagai logistik ya. Apapun itu tidak boleh warga negara Indonesia menjadi tentara di luar negeri, itu,” kata Cen Sui.

Menanggapi kabar WNI yang menjadi tentara Rusia, Ketua MPR RI Ahmad Muzani menekankan pentingnya penyediaan lapangan pekerjaan dan kelayakan hidup bagi masyarakat Indonesia. “Saya kira tugas kita semua, tugas kami adalah menjaga kedaulatan negara termasuk seluruh rakyat dan bangsa Indonesia untuk tetap loyal dan setia kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia,” ujar Muzani di Kantor Dinas Kabupaten Natuna.

“Iming-iming ataupun tawaran-tawaran terhadap pekerjaan lain apalagi yang berkonotasi kepada tentara bayaran, saya kira sesuatu yang jelas tidak dibenarkan. Tetapi di sisi lain kita juga harus menyediakan lapangan pekerjaan dan kelayakan hidup yang lebih baik supaya hal seperti itu tidak terulang,” imbuhnya.

Tinggalkan komentar