JAKARTA – Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) bersama Pesantren Tebuireng menegaskan komitmen untuk memperkuat solidaritas dan kerja sama strategis di bidang pendidikan serta kebudayaan dengan Palestina. Langkah ini merupakan kontribusi nyata warga nahdliyin dalam mengawal perdamaian dan keadilan bagi bangsa Palestina.
Ketua PBNU sekaligus Pengasuh Pesantren Tebuireng, KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin, menyatakan kemitraan internasional ini memegang peranan krusial bagi pengembangan lembaga pendidikan Islam di Indonesia sekaligus memperluas jejaring diplomasi di panggung global. “Kerja sama ini menjadi langkah krusial untuk masa depan lembaga pendidikan Islam di Indonesia. Indonesia sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, di mana mayoritas merupakan warga nahdliyin, memiliki tanggung jawab moral dan strategis untuk mengambil peran aktif di panggung internasional, terutama penguatan kepedulian terhadap berbagai persoalan kemanusiaan,” tegas Gus Kikin usai menerima kunjungan delegasi Palestina di Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, Senin (28/9/2026).
Pertemuan dengan Delegasi Palestina
Pertemuan yang berlangsung di kompleks Pesantren Tebuireng tersebut dihadiri sejumlah tokoh penting dari Palestina, antara lain H.E. Abdulfattah A.K. Al-Satar (Duta Besar Palestina untuk Republik Indonesia), H.E. Sheikh Mohammad A.M. Hussein (Imam Besar Masjid Al-Aqsa, Palestina), dan H.E. Dr. Mahmoud S.A. Al-Habash (Penasihat Presiden Palestina Bidang Keagamaan). Forum silaturahmi ini juga dihadiri para ulama, jajaran pengurus PBNU, serta berbagai elemen masyarakat.
Pertemuan ini dirancang untuk membuka ruang dialog yang lebih luas mengenai perkembangan kondisi di Palestina, peran strategis umat Islam global, serta pentingnya merawat persaudaraan antarbangsa. Gus Kikin menambahkan, pertemuan ini tidak sekadar menjadi ajang silaturahmi formal, melainkan wadah untuk memperkuat kesadaran bersama mengenai nilai-nilai kemanusiaan, penegakan keadilan, serta penghormatan terhadap hak-hak berdaulat bangsa Palestina.
Akar Sejarah Dukungan NU untuk Palestina
Hubungan antara Nahdlatul Ulama (NU) dan Palestina memiliki akar sejarah yang sangat kuat, bahkan telah terjalin sejak sebelum kemerdekaan Indonesia. NU secara konsisten menyuarakan dukungan terhadap kemerdekaan Palestina, salah satunya melalui gelaran “Minggu Palestina” yang dicetuskan oleh para pendiri NU pada Muktamar 1938 di Menes, Banten.
Sebagai salah satu pusat pendidikan Islam tertua dan paling berpengaruh di Indonesia, Pesantren Tebuireng yang didirikan oleh KH M. Hasyim Asy’ari terus melanjutkan tradisi diplomasi kultural tersebut. Melalui penguatan kerja sama di sektor pendidikan dan kebudayaan seperti pertukaran pelajar, beasiswa, dan program kolaborasi keilmuan, PBNU dan Tebuireng berupaya memberikan bantuan konkret yang berkelanjutan bagi pemuda Palestina, sekaligus memperkokoh ukhuwah islamiyah (persaudaraan sesama muslim) dan ukhuwah insaniyah (persaudaraan sesama manusia).