JAKARTA – Perjalanan warga negara Indonesia ke luar negeri dilaporkan mengalami penurunan sepanjang delapan bulan pertama tahun 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, jumlah perjalanan wisatawan nasional (wisnas) hanya mencapai 5,91 juta perjalanan. Angka ini menunjukkan penurunan sebesar 3,56% dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menjelaskan bahwa penurunan ini dipengaruhi oleh beberapa faktor. Di antaranya adalah berkurangnya frekuensi penerbangan internasional dari sejumlah bandara, harga tiket pesawat yang cenderung mahal, serta pelemahan nilai tukar rupiah yang turut menahan masyarakat untuk bepergian ke mancanegara.
“Kami mencatat pengaruh menurunnya wisnas, yang pertama adalah penurunan frekuensi penerbangan internasional yang berangkat, seperti dari Kualanamu. Kemudian yang kedua, harga tiket pesawat yang relatif lebih mahal, serta nilai tukar rupiah,” ujar Ateng dalam konferensi pers di Kantor BPS Pusat, Jakarta, Kamis (1/10/2026).
Selain faktor domestik terkait penerbangan dan kurs, kondisi eksternal juga turut berkontribusi terhadap penurunan mobilitas masyarakat ke luar negeri. Ateng menyebutkan bahwa cuaca ekstrem di berbagai wilayah dan negara, serta kondisi geopolitik global, menjadi faktor lain yang menekan perjalanan wisatawan nasional.
Penurunan tercatat lebih signifikan pada bulan Agustus 2026. BPS mencatat hanya ada 643,69 ribu perjalanan wisnas pada bulan tersebut, yang berarti anjlok 19,81% jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya (month-to-month/mtm). Jika dibandingkan dengan Agustus 2025, jumlah perjalanan juga mengalami penurunan sebesar 6,02%.
Ateng melanjutkan, penurunan tajam secara bulanan ini terutama disebabkan oleh normalisasi mobilitas masyarakat setelah periode puncak perjalanan pada Juni hingga Juli. Berakhirnya liburan sekolah juga menjadi faktor yang menyebabkan permintaan perjalanan internasional kembali berkurang pada bulan Agustus.
“Penurunan perjalanan wisnas secara bulanan terutama mencerminkan adanya normalisasi mobilitas setelah peak travel season pada Juni sampai Juli dan berakhirnya liburan sekolah,” jelas Ateng. Dengan perkembangan tersebut, total perjalanan wisnas pada periode Januari–Agustus 2026 akhirnya terkontraksi sebesar 3,56% secara tahunan.
Perkembangan jumlah wisatawan nasional ini menunjukkan tren yang berbanding terbalik dengan arus wisatawan asing yang masuk ke Indonesia. Sepanjang Januari–Agustus 2026, kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) justru mengalami peningkatan. Tercatat, ada 10,58 juta kunjungan, meningkat 5,38% dibandingkan periode yang sama tahun 2025. Angka ini juga menjadi capaian tertinggi sejak tahun 2020.
Pada bulan Agustus saja, kunjungan wisman mencapai 1,60 juta kunjungan. Angka ini naik 4,89% secara bulanan dan 6,27% secara tahunan. Wisatawan asal Malaysia masih mendominasi kunjungan wisman dengan pangsa pasar sebesar 18,52%, diikuti oleh Australia sebesar 10,75%, dan Tiongkok sebesar 10,16%.
Data ini menunjukkan adanya arah yang berbeda antara mobilitas wisata masuk dan keluar Indonesia pada tahun 2026. Ketika kunjungan turis asing terus meningkat menuju level sebelum pandemi, perjalanan orang Indonesia ke luar negeri justru menyusut. Hal ini disebabkan oleh kombinasi faktor seperti harga tiket pesawat yang relatif mahal, tekanan nilai tukar rupiah, keterbatasan penerbangan internasional, cuaca ekstrem, dan ketidakpastian geopolitik global.