JAKARTA – Menjelang peringatan Bulan Bahasa yang jatuh pada Oktober mendatang, SMA Kemala Taruna Bhayangkara (KTB) di Bogor, Jawa Barat, telah meluncurkan dua buku yang seluruhnya merupakan karya siswa. Penerbitan perdana ini menghadirkan kumpulan opini dan puisi yang digarap oleh 42 pelajar.
Kepala SMA Kemala Taruna Bhayangkara, Hendri Adi, menjelaskan bahwa peluncuran buku ini merupakan bentuk apresiasi para pendidik terhadap kreativitas dan keberanian siswa dalam berekspresi melalui tulisan. Awalnya, karya-karya tersebut merupakan bagian dari tugas sekolah untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris.
“Untuk buku Echoes of Heritage itu memang berasal dari penugasan di pelajaran Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Anak-anak diminta untuk merefleksikan pengalaman mereka, berinteraksi dengan budaya, dengan lingkungan sekitar, kemudian menghubungkannya dengan isu-isu lokal dan global dalam perspektif mereka,” ujar Hendri pada Minggu (27/9/2026).
Hendri menambahkan bahwa proses penilaian hingga pemilihan karya yang layak dibukukan dilakukan oleh para ahli di bidangnya. Ia menekankan bahwa pengembangan karya tulis dan sastra merupakan salah satu program unggulan di SMA Kemala Taruna. Sekolah ini berupaya agar siswa tidak hanya terpaku pada buku teks dan persiapan ujian, tetapi juga mampu menuangkan ide serta menawarkan solusi atas permasalahan sosial dan lingkungan yang mereka lihat.
Direktur Kebhayangkaraan, Brigjen M. Arif Sugiarto, turut mengapresiasi kejujuran para siswa dalam proses penulisan, terutama di era perkembangan kecerdasan buatan (AI). Ia menyoroti pentingnya memulai proses kreatif sebelum bergantung pada AI.
“Hal yang halangan utama orang untuk merefleksikan apa yang dibikin dalam bentuk tulisan, itu adalah memulai. Dan anak-anak ini berhasil, berhasil melampaui itu. Dan kita lihat hari ini, kita disajikan tadi dua buku, ya,” kata Arif. Ia melanjutkan, “Jadi, kalau kita menyatakan bagaimana pengaruh AI di zaman sekarang, hampir nggak mungkin kita kalau nggak ngelirik AI-nya. Tapi se-original apa. Kalau tadi pembicara bilang, kamu nulis dulu lihat AI atau lihat AI baru nulis? Jadi, penulis tadi nulis dulu, tuangkan dalam pikiran kita, baru dalam proses lainnya baru tanya AI, untuk bantuan koreksi.”