Mahasiswa seringkali dihadapkan pada berbagai kebutuhan, mulai dari biaya kuliah, transportasi, hingga gaya hidup seperti nongkrong dan belanja online. Kondisi ini kerap membuat saldo keuangan mahasiswa cepat menipis, sehingga penting bagi mereka untuk meningkatkan kemampuan mengelola keuangan. Investasi kini mulai diperkenalkan sebagai salah satu cara membangun kebiasaan finansial yang lebih baik sejak dini.
Memulai investasi sejak usia muda tidak selalu berarti harus langsung mengejar keuntungan besar. Hal terpenting adalah mengenal cara mengelola uang dan memahami berbagai pilihan investasi yang tersedia. Pembahasan mendalam mengenai hal ini disajikan dalam program Money Lab bertajuk “Anti Fomo Club, Belajar Investasi Biar Nggak Boncos” yang tayang di YouTube Investor Daily pada Jumat, 25 September 2026.
Director of Research GIS FEB UIN Jakarta, Hirzi Muhammad Hafiz, menyatakan bahwa mahasiswa tidak perlu menjadi ahli untuk mulai mengenal investasi. Menurutnya, memahami dasar-dasar instrumen investasi adalah langkah awal yang krusial sebelum memutuskan untuk menggunakan uang. “Kita juga harus tahulah setidaknya apa saja instrumen-instrumen investasi dan minimal itu tahu dasarnya aja sih. Jadi, enggak perlu kayak harus expert,” ujar Hirzi dalam program Money Lab.
Pesatnya informasi di media sosial menjadi salah satu tantangan bagi investor muda. Berbagai konten investasi, mulai dari rekomendasi saham hingga cerita keuntungan besar, dapat muncul secara bersamaan. Hal ini berpotensi menggoda seseorang untuk mengikuti pilihan orang lain tanpa benar-benar memahami apakah instrumen tersebut sesuai dengan kondisi keuangannya.
Dalam program tersebut, dunia investasi dibahas oleh para mahasiswa UIN Jakarta, mencakup pengenalan dasar-dasar instrumen investasi hingga cara memitigasi risiko sejak dini. Pemahaman mengenai dasar investasi sangat penting agar seseorang tidak hanya tertarik karena melihat potensi keuntungannya, tetapi juga mempertimbangkan risiko dari instrumen yang dipilih.
Data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) menunjukkan bahwa investor berusia di bawah 30 tahun, yang didominasi oleh Gen Z dan first jobber, memiliki porsi 54,14%. Selain itu, 32,95% investor individu dilaporkan berpenghasilan di bawah Rp 10 juta. Hal ini sejalan dengan data Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026 yang dirilis oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), dan Badan Pusat Statistik (BPS).
Berdasarkan SNLIK 2026, kelompok pelajar dan mahasiswa tercatat memiliki indeks literasi keuangan sebesar 62,72%, sementara indeks inklusi keuangannya mencapai 92,76%. Angka ini masih berada di bawah indeks literasi keuangan nasional yang masing-masing mencapai 69,57% dan 93,61%. Sementara itu, SNLIK 2025 mencatat indeks literasi keuangan kelompok pelajar dan mahasiswa sebesar 61,76%, dengan inklusi keuangan mencapai 84,42%. Data tersebut mengindikasikan bahwa akses terhadap layanan keuangan perlu berjalan beriringan dengan pemahaman mengenai produk dan risikonya.
Angka-angka ini menunjukkan bahwa akses kelompok pelajar dan mahasiswa terhadap layanan keuangan sudah cukup tinggi. Namun, akses terhadap produk keuangan tetap perlu diikuti oleh pemahaman agar pengguna tidak hanya sekadar mengikuti tren.
Hirzi mengingatkan mahasiswa untuk tidak menjadikan media sosial sebagai satu-satunya dasar dalam mengambil keputusan investasi. Konten yang menampilkan keuntungan besar dalam waktu singkat belum tentu mencerminkan kondisi setiap orang. “Jadi, kalau misalnya teman-teman lihat di sosial media ada orang yang baru setahun, dua tahun tiba-tiba langsung beli mobil segala macam flexing-flexing, itu menurut aku mungkin antara dia memang beruntung banget atau memang orang tuanya kaya. Jadi jangan mudah terlena,” lanjut Hirzi di program Money Lab.
Bagi mahasiswa yang belum memiliki penghasilan tetap, disarankan untuk tidak terburu-buru memasuki instrumen investasi berisiko tinggi. Menurutnya, mahasiswa dapat terlebih dahulu memperbanyak pengetahuan melalui kelas, forum diskusi, atau sumber edukasi yang kredibel. Dengan begitu, investasi sejak kuliah tidak harus dimaknai sebagai kewajiban untuk langsung membeli saham atau aset tertentu. Langkah awal bisa dimulai dari memahami kondisi keuangan diri sendiri, mempelajari instrumen-instrumen investasi, dan mengetahui risiko yang mungkin akan muncul.
Sebab, investasi bukan soal siapa yang paling cepat mendapatkan keuntungan. Dalam Money Lab, Hirzi menekankan bahwa proses tersebut membutuhkan kesabaran dan kedisiplinan.