Runtuhnya Bendungan St Francis pada 12 Maret 1928 menjadi salah satu kecelakaan konstruksi terburuk di Amerika Serikat pada abad ke-20. Bencana ini terjadi akibat kesalahan desain yang fatal, menyebabkan ratusan nyawa melayang.
Bendungan yang terletak di San Francisquito Canyon, sekitar 80 kilometer barat laut Los Angeles, dirancang sebagai tipe busur-gravitasi beton (gravity-arch). Pembangunannya bertujuan untuk menyokong pasokan air kota. Kajian seorang ahli geologi dari Nottingham, Inggris, Tony Waltham, menyebutkan bahwa bendungan ini memiliki kelemahan struktural.
Pembangunan bendungan dimulai dengan rancangan busur-gravitasi beton masif. Selama proses konstruksi, tinggi bendungan dinaikkan 6 meter menjadi 62 meter tanpa memperlebar ukuran alasnya. Seiring pengisian waduk, retakan-retakan vertikal mulai muncul di permukaan beton hilir bendungan.
Bencana terjadi tak lama setelah waduk terisi penuh untuk pertama kalinya. Kebocoran baru dengan debit yang makin besar mulai terpantau. Pada hari kejadian, penjaga bendungan menemukan kebocoran air keruh dengan debit sekitar 75 liter per detik. Meskipun seorang insinyur dan asistennya datang memeriksa, mereka menyimpulkan bahwa kebocoran tersebut berasal dari erosi permukaan dan belum berbahaya.
Namun, dua menit sebelum tengah malam, Bendungan St Francis runtuh total. Sekitar 47 juta meter kubik air tumpah melintasi lembah, membentuk gelombang banjir setinggi 40 meter dengan kecepatan hampir 30 kilometer per jam. Gelombang banjir tersebut menghancurkan kota kecil Castaic.
Banjir bandang ini menewaskan sedikitnya 432 orang. Sebagian besar korban adalah warga yang tinggal di permukiman terisolasi dan area pertanian di sepanjang Santa Clara Valley yang tidak sempat dievakuasi.
Penyebab utama runtuhnya bendungan adalah kombinasi kondisi geologi tapak yang sangat tidak layak dan kesalahan desain teknik. Dua pertiga bendungan berdiri di atas batuan yang memiliki bidang rekahan sejajar dengan arah gaya dorong air waduk. Lokasi ini juga berada di atas area longsoran purba yang rentan. Selain itu, bendungan tidak dilengkapi sumur pereda atau lubang drainase pada tumpuan samping untuk mengalirkan tekanan air tanah, yang akhirnya menyebabkan tekanan bangunan membuatnya runtuh.