Kepercayaan Global Menurun, Emas Jadi Primadona Investasi

Kondisi global yang diliputi ketidakpercayaan terhadap pemerintah, data ekonomi, dan hubungan perdagangan internasional mendorong emas menjadi pilihan utama sebagai aset investasi. Emas kini dipandang sebagai aset yang nilainya tidak bergantung pada keyakinan terhadap satu negara atau entitas tertentu.

Josh Phair, CEO dan pemilik Scottsdale Mint, mengamati adanya perubahan perilaku signifikan dalam pembelian emas. Investor besar dan perusahaan kini semakin gencar mengakuisisi logam mulia ini. “Saya rasa orang-orang tidak percaya pada data yang dikeluarkan pemerintah dari negara mana pun. Mereka juga tidak saling percaya dalam perdagangan dan apa yang sedang terjadi. Mereka beralih ke aset yang tidak membutuhkan kepercayaan, dan saya rasa kita belum pernah melihat hal seperti ini sebelumnya,” ujar Phair dikutip dari Mining.com.

Phair menambahkan bahwa emas tidak lagi hanya diminati oleh investor ritel. Investor dengan kekayaan signifikan dan perusahaan mulai memasukkan emas ke dalam neraca mereka, bahkan menjadikannya sebagai jaminan untuk mendapatkan pembiayaan. “Investor dengan kekayaan besar, bahkan perusahaan, mulai menempatkan emas di neraca dan kemudian menggunakannya sebagai dasar untuk mendapatkan pinjaman,” katanya.

Tren ini juga diperkuat oleh aksi bank sentral di berbagai negara yang terus meningkatkan cadangan emas mereka. China dilaporkan telah menjadi pembeli emas selama 22 bulan berturut-turut, bahkan melakukan pembelian besar saat terjadi koreksi harga. Phair memperkirakan bank sentral yang sebelumnya memiliki sedikit atau tanpa cadangan emas akan mulai mengalokasikan sekitar 1% hingga 3% dari total cadangan mereka. Sementara itu, bank sentral yang sudah memiliki alokasi 1% hingga 3% kini mengincar porsi 5% hingga 7%. Bahkan, Polandia disebut menargetkan alokasi emas hingga 30% pada akhir tahun.

Volatilitas Emas Meningkat Tajam

Perubahan perilaku investor ini terjadi seiring dengan meningkatnya volatilitas di pasar logam mulia. Phair mencatat bahwa pergerakan harga emas dan perak saat ini jauh lebih cepat dibandingkan periode sebelumnya. “Saya melihat volatilitas emas dan perak semakin tinggi, dan emas kini digunakan sebagai aset treasury,” ujar Phair.

Berbeda dengan masa lalu yang mungkin membutuhkan waktu lama untuk pergerakan harga yang signifikan, kini perubahan harga yang drastis dapat terjadi hanya dalam hitungan jam. Phair juga menyoroti tantangan besar yang dihadapi industri pertambangan, terutama keterbatasan kapasitas pemurnian.

Meskipun sektor pertambangan telah menghasilkan arus kas yang cukup baik, industri ini menghadapi kekurangan pendanaan, pengembangan, dan eksplorasi selama lebih dari dua dekade. Kondisi ini mendorong konsolidasi proyek dan perusahaan pertambangan. Namun, tantangan produksi semakin kompleks akibat perbedaan regulasi dan risiko geopolitik di setiap wilayah.

Di Amerika Serikat, misalnya, proses perizinan pertambangan dan kewajiban reklamasi bisa memakan waktu 10 hingga 20 tahun. Akibatnya, perusahaan pertambangan semakin terdorong untuk mencari proyek di lokasi yang lebih menantang, seperti Amerika Selatan dan Afrika, meskipun ekspansi ini turut meningkatkan risiko geopolitik yang harus dihadapi.

Tinggalkan komentar