Jual Bersih Asing Menggila, IHSG Anjlok 94 Poin, Saham BMRI dan TLKM Jadi Sasaran

JAKARTA – Investor asing kembali melancarkan aksi jual bersih atau net sell besar-besaran di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Senin, 28 September 2026. Aksi ini menyebabkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup anjlok 94 poin atau 1,5% ke level 6.147,8.

Secara total, net sell asing di seluruh pasar pada hari itu mencapai Rp 1,1 triliun. Angka ini menambah total net sell asing sepanjang tahun berjalan menjadi Rp 78,6 triliun, berdasarkan data yang dirilis BEI.

Saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) menjadi sasaran jual utama investor asing di pasar reguler, dengan total net sell mencapai Rp 241,5 miliar. Selain BMRI, saham PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) juga banyak dilepas oleh investor asing, dengan nilai net sell tercatat sebesar Rp 121,6 miliar.

Sebaliknya, transaksi beli bersih atau net buy terbanyak oleh investor asing pada hari yang sama terjadi pada saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI). Namun, nilai net buy ini relatif tidak signifikan, yakni senilai Rp 49,6 miliar.

Perdagangan di BEI pada Senin tersebut menunjukkan pergerakan yang cukup signifikan. Dari total saham yang diperdagangkan, sebanyak 192 saham menguat, 554 saham melemah, dan 217 saham lainnya stagnan. Total nilai transaksi harian mencapai Rp 12,49 triliun.

Menurut analisis Pilarmas Investindo Sekuritas, tekanan terhadap pasar domestik datang dari berbagai faktor eksternal. Di antaranya adalah pelemahan bursa regional Asia, ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah, kenaikan harga minyak dunia, serta kembalinya imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) yang tinggi.

Pilarmas Investindo Sekuritas menyebutkan bahwa pasar kembali dibayangi ketidakpastian di Timur Tengah menyusul penolakan Presiden AS Donald Trump terhadap proposal terbaru dari Iran terkait pembukaan kembali Selat Hormuz. Selain itu, kenaikan yield obligasi AS, yang mendekati 5,17% untuk tenor 10 tahun, juga memberikan tekanan tambahan terhadap IHSG.

Investor saat ini tengah menantikan sejumlah indikator ekonomi penting dari AS yang akan dirilis pekan ini. Data inflasi yang menjadi perhatian The Fed dan data ketenagakerjaan diperkirakan akan memberikan petunjuk tambahan mengenai arah kebijakan moneter AS ke depan.

Dari dalam negeri, investor juga mencermati tingginya harga minyak mentah dan potensi dampaknya terhadap kondisi fiskal negara. Di sisi lain, Bursa Efek Indonesia (BEI) secara resmi menerapkan batas minimum harga saham menjadi Rp 1 per lembar mulai Senin (28/9/2026), menggantikan batas sebelumnya yang sebesar Rp 50. BEI juga memperketat kriteria masuk Papan Pemantauan Khusus melalui mekanisme Full Call Auction (FCA), yang berdampak pada keluarnya 92 saham dari papan tersebut.

Tinggalkan komentar