Dana investasi asal Swedia, Coeli Asset Management, untuk pertama kalinya melakukan investasi di pasar saham Indonesia. Langkah strategis ini ditandai dengan pembelian saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA). Keputusan ini diambil di tengah kondisi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang mengalami penurunan sekitar 30% sepanjang tahun berjalan, dan valuasi sejumlah emiten terkoreksi jauh dari rata-rata historisnya.
Jason Gozali, Head of Research Pluang Maju Sekuritas, menilai bahwa waktu masuknya investor asing ini lebih menarik untuk dicermati dibandingkan sekadar nominal investasinya. Ia menjelaskan bahwa di saat pasar Indonesia kurang populer di mata investor global dan rupiah menjadi mata uang terlemah di Asia tahun ini, investor yang berbasis valuasi justru mulai melihat adanya peluang.
“Koreksi tersebut membuat banyak saham diperdagangkan jauh di bawah rerata historis. Pilihan terhadap GOTO dan BBCA juga mewakili dua karakter berbeda, yakni cerita pemulihan fundamental pada GOTO serta kekuatan fundamental BBCA,” ujar Jason di Jakarta, Senin (5/10/2026).
Coeli Asset Management telah mengamati pasar Indonesia selama beberapa tahun terakhir, namun sebelumnya menilai valuasinya masih terlalu mahal. Koreksi pasar yang terjadi kemudian mendorong pengelola dana yang berbasis di Stockholm tersebut untuk meningkatkan alokasi Indonesia hingga hampir 6% dari portofolio mereka, dengan memasukkan GOTO dan BBCA sebagai pilihan utamanya.
Jason menekankan bahwa perhatian terhadap GOTO seharusnya tetap diarahkan pada perkembangan fundamentalnya, bukan semata-mata karena kehadiran investor asing. Ia menyoroti bisnis finansial GOTO melalui GoPay yang terus menunjukkan pertumbuhan, dengan loan book yang naik 58% secara tahunan dan perseroan yang berhasil membukukan laba bersih selama dua kuartal beruntun pada semester pertama.
Namun, bisnis ojek daring GOTO masih menghadapi tekanan akibat aturan komisi 8% yang mulai berlaku sejak Juli lalu. Dampak penuh dari kebijakan tersebut diperkirakan baru akan terlihat dalam laporan keuangan kuartal III.
GOTO juga sedang dalam proses mengevaluasi rencana reverse stock split dan berencana untuk menghanguskan 32 miliar saham treasuri. Selain itu, komitmen buyback senilai Rp 3,5 triliun juga menjadi salah satu faktor lain yang terus diperhatikan oleh pasar.
Setelah batas harga Rp 50 dihapus, pergerakan saham GOTO kini menjadi lebih leluasa untuk mencerminkan permintaan dan penawaran pasar. Jason menilai laporan kuartal III akan menjadi salah satu momentum penting yang perlu dicermati untuk melihat arah fundamental perseroan ke depan.
Meskipun masuknya Coeli Asset Management memberikan sinyal positif bahwa valuasi saham Indonesia mulai dilirik, Jason mengingatkan bahwa kehadiran satu investor asing belum cukup menjadi tanda pembalikan tren pasar secara keseluruhan. Tekanan struktural yang masih ada, termasuk persoalan klasifikasi MSCI, tetap menjadi risiko yang perlu diwaspadai bagi pasar saham Indonesia.