Investor SUN Tuntut Imbal Hasil Lebih Tinggi di Tengah Tekanan Rupiah

Permintaan terhadap Surat Utang Negara (SUN) terus menunjukkan minat, meskipun terjadi penurunan nilai penawaran dalam lelang terbaru. Investor kini lebih selektif dan menuntut imbal hasil (yield) yang lebih tinggi, dipicu oleh pelemahan rupiah serta kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS).

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menjelaskan bahwa penurunan nilai penawaran dari Rp 65,97 triliun pada lelang 1 September menjadi sekitar Rp 60,97 triliun pada lelang 15 September belum mengindikasikan berkurangnya minat investor terhadap SUN.

Menurut Yusuf, kedua lelang tersebut berhasil menyerap dana sebesar Rp 34 triliun, melebihi target indikatif Rp 32 triliun. Jumlah penawaran yang masuk juga masih hampir dua kali lipat dari nilai yang berhasil diserap pemerintah.

“Investor masih berminat, tetapi lebih berhati-hati dalam menentukan harga setelah imbal hasil Treasury AS naik, rupiah melemah, dan likuiditas domestik berkurang dibandingkan awal bulan,” ujar Yusuf kepada Investor Daily, Minggu (27/9/2026).

Oleh karena itu, isu utama dalam lelang SUN saat ini bukan ketersediaan pembeli, melainkan tingkat imbal hasil yang diminta oleh investor.

Yusuf menambahkan, yield SUN tenor 10 tahun yang berada di kisaran 7,1% masih dianggap cukup menarik bagi investor domestik maupun sebagian pelaku carry trade. Namun, tingkat imbal hasil tersebut belum tentu cukup untuk mendorong masuknya dana asing dalam jumlah besar dan bersifat jangka panjang.

Hal ini disebabkan oleh menyempitnya spread antara yield SUN dan Treasury AS menjadi sekitar 190 basis poin. Kondisi ini mengharuskan daya tarik aset rupiah diperhitungkan bersamaan dengan risiko nilai tukar.

“Dalam kondisi rupiah yang belum stabil, keuntungan dari yield tersebut dapat berkurang setelah memperhitungkan risiko nilai tukar dan biaya lindung nilai,” jelasnya.

Perhatian ini penting karena investor asing tidak hanya membandingkan yield nominal, tetapi juga menghitung potensi keuntungan setelah memperhitungkan pergerakan nilai tukar rupiah. Jika rupiah kembali tertekan, imbal hasil SUN di kisaran 7% bisa menjadi kurang menarik bagi investor asing, meskipun secara nominal masih relatif tinggi.

Lebih lanjut, Yusuf melihat kenaikan yield pada SUN tenor 5 hingga 10 tahun lebih mencerminkan permintaan investor terhadap premi tambahan, bukan kekhawatiran terhadap kemampuan pemerintah dalam memenuhi kewajiban utangnya. Menurutnya, premi tersebut berkaitan dengan kondisi likuiditas dan risiko nilai tukar yang masih tinggi.

“Kenaikan yield pada tenor lima hingga 10 tahun menunjukkan investor masih meminta tambahan imbal hasil. Ini lebih mencerminkan premi likuiditas dan risiko kurs daripada kekhawatiran terhadap kemampuan pemerintah membayar utang,” kata Yusuf.

Di sisi lain, pemerintah tetap bersikap selektif dalam menentukan tingkat yield. Pemerintah berhasil menyerap Rp 34 triliun dari lelang sebelumnya tanpa harus menerima seluruh penawaran pada tingkat yield yang dinilai terlalu tinggi. Hal ini menunjukkan adanya keseimbangan antara kebutuhan pembiayaan pemerintah dan upaya menjaga biaya utang tetap terkendali.

Proyeksi Yield Hingga Akhir Tahun

Untuk sisa tahun ini, Yusuf memperkirakan yield SUN tenor 10 tahun akan bergerak dalam rentang yang cukup lebar, yaitu di kisaran 7%-7,3%. Yield berpeluang turun mendekati 6,9% apabila dolar AS melemah dan permintaan domestik terhadap SUN tetap kuat.

Sebaliknya, tekanan pada pasar obligasi dapat meningkat apabila yield Treasury AS kembali naik atau rupiah menembus level Rp 18.000 per dolar AS. Dalam skenario tersebut, yield SUN 10 tahun berpotensi meningkat menuju 7,3%-7,5%.

“Yield dapat turun mendekati 6,90% jika dolar melemah dan permintaan domestik tetap kuat. Sebaliknya, kenaikan Treasury atau pelemahan rupiah melewati Rp 18.000 dapat mendorong yield ke kisaran 7,30 hingga 7,50 persen,” ujarnya.

Pemerintah akan kembali menggelar lelang SUN pada 29 September 2026 dengan target indikatif Rp 30 triliun. Yusuf menilai target tersebut masih realistis dicapai meskipun terdapat potensi penurunan penawaran menjelang akhir kuartal.

Menurutnya, permintaan investor diperkirakan tetap memadai, namun pemerintah perlu mencermati tingkat yield yang diminta peserta lelang.

“Penawaran mungkin lebih tipis menjelang akhir kuartal, tetapi permintaan diperkirakan tetap memadai. Risiko utamanya bukan hilangnya pembeli, melainkan investor yang meminta yield lebih tinggi di tengah ketidakpastian global dan tekanan terhadap rupiah,” pungkas Yusuf.

Tinggalkan komentar