Investasi Rutin atau Sekaligus: Mana yang Tepat untuk Pemula di Pasar Modal?

JAKARTA – Investor pemula seringkali dihadapkan pada pilihan strategi investasi yang krusial, terutama ketika menghadapi volatilitas pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Dua pendekatan utama yang kerap menjadi pertimbangan adalah menempatkan seluruh dana investasi sekaligus (lump sum) atau berinvestasi secara bertahap dan rutin melalui metode dollar cost averaging (DCA).

IHSG sendiri tercatat ditutup melemah 0,83% ke level 6.071,14 pada penutupan perdagangan Rabu, 30 September 2026. Dalam kondisi pasar yang cenderung bergejolak ini, strategi penempatan dana menjadi salah satu faktor penting bagi investor, khususnya bagi mereka yang baru memulai perjalanan di dunia investasi.

Metode lump sum melibatkan penempatan seluruh dana investasi dalam satu waktu. Sementara itu, dollar cost averaging (DCA) adalah strategi di mana investor membeli aset dengan nominal tetap secara berkala. Dikutip dari informasi Pegadaian pada Rabu (30/9/2026), penerapan DCA dapat dicontohkan melalui pembelian emas setiap kali menerima gaji bulanan. Dengan pendekatan ini, harga pembelian aset dapat bervariasi setiap bulan, yang pada akhirnya akan membentuk harga rata-rata pembelian.

Setoran rutin yang konsisten melalui metode DCA membantu investor untuk tetap disiplin tanpa perlu berusaha menebak waktu terbaik untuk masuk ke pasar. Strategi ini sangat cocok bagi investor yang memiliki sumber pendapatan berkala, seperti para pekerja yang menerima gaji bulanan.

Data menunjukkan bahwa investor reksa dana usia muda baru mencapai 11,41 juta atau sekitar 12,82% dari total populasi usia 15-34 tahun yang mencapai 88,96 juta jiwa. Sementara itu, Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) mencatat jumlah investor reksa dana secara keseluruhan mencapai 18,99 juta hingga Desember 2025.

Namun, perlu digarisbawahi bahwa DCA tidak selalu menjamin keuntungan yang lebih tinggi. Riset historis yang dilakukan oleh Vanguard dan dirangkum oleh Masterworks mengindikasikan bahwa strategi lump sum cenderung mengungguli DCA pada sekitar dua pertiga periode yang diteliti, dengan durasi 12 bulan. Hal ini disebabkan oleh dana dalam strategi lump sum yang memiliki kesempatan untuk bekerja lebih awal di pasar.

Di sisi lain, DCA memiliki keunggulan dalam membantu meminimalkan risiko kerugian pada tahap awal investasi. Selain itu, metode ini juga dapat mengurangi potensi rasa penyesalan akibat keputusan masuk pasar pada waktu yang kurang optimal. Konsekuensinya, investor mungkin harus mengorbankan sebagian dari potensi imbal hasil yang lebih tinggi.

Bagi individu dengan penghasilan bulanan, pilihan strategi investasi pada dasarnya dapat disesuaikan dengan arus kas yang tersedia. Dana yang diinvestasikan secara rutin setiap menerima gaji pada dasarnya sudah menerapkan konsep DCA.

Sebelum memulai investasi, sangat penting bagi setiap investor untuk memastikan bahwa kebutuhan dana darurat telah terpenuhi. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyarankan agar masyarakat yang belum memiliki tanggungan memiliki dana darurat sebesar 3 hingga 6 kali gaji bulanan mereka.

Penting untuk diingat bahwa DCA tidak secara otomatis menjamin keuntungan, karena harga aset tetap berpotensi mengalami penurunan. Oleh karena itu, tujuan investasi yang jelas dan profil risiko investor harus tetap menjadi acuan utama dalam menentukan strategi yang paling sesuai.

Khusus untuk investasi saham, para investor juga perlu memperhatikan ketentuan perdagangan yang berlaku di Bursa Efek Indonesia (BEI). Satu lot saham setara dengan 100 lembar saham, sehingga besaran setoran investasi bulanan perlu disesuaikan dengan harga saham yang dipilih untuk dibeli.

Tinggalkan komentar