Integrasi Cetak 2D dan 3D Hadir Perdana di ALLPrint Indonesia 2026

Ekosistem industri percetakan dan manufaktur nasional bersiap menyambut babak baru melalui sinergitas lintas sektor yang progresif. Asosiasi PRINTRIDI secara resmi menjalin kolaborasi jangka panjang dengan Krista Exhibitions Group (PT Kristamedia Pratama) untuk menghadirkan integrasi teknologi cetak dua dimensi (2D) dan tiga dimensi (3D) secara perdana dalam ajang pameran percetakan internasional terbesar di Indonesia, ALLPrint Indonesia 2026.

Penandatanganan Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) dilakukan oleh Ketua Asosiasi PRINTRIDI, Eric Rudolf Thedjasurya (Eric 3D), bersama Chief Executive Officer Krista Exhibitions, Daud D. Salim, pada Selasa (22/9/2026). Langkah strategis ini bertujuan untuk memperluas cakupan ekosistem percetakan serta mendorong adopsi teknologi additive manufacturing (3D printing) di berbagai sektor industri Tanah Air.

Kolaborasi ini menandai tonggak sejarah baru dalam industri grafika dan manufaktur nasional, di mana teknologi percetakan konvensional/digital 2D dipadukan secara terintegrasi dengan fleksibilitas produksi teknologi 3D. Diharapkan, langkah ini mampu membuka wawasan baru bagi para pelaku usaha mengenai penerapannya secara lintas sektor.

Sebagai realisasi kerja sama strategis ini, pameran ALLPrint Indonesia 2026 yang akan berlangsung pada 7–10 Oktober 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta, akan menghadirkan sesi pemaparan wawasan serta showcase interaktif dari penggabungan teknologi 2D dan 3D.

Daud D. Salim, CEO Krista Exhibitions Group, menyatakan, “Kolaborasi antara Krista Exhibitions Group dan Asosiasi PRINTRIDI menjadi langkah strategis untuk memperluas ekosistem industri percetakan dan manufaktur di Indonesia. Melalui ALLPrint Indonesia 2026, kami ingin mempertemukan teknologi, pelaku industri, dan pengguna dalam satu platform untuk berbagi pengetahuan, melihat perkembangan teknologi secara langsung, serta membuka peluang kolaborasi dan bisnis baru.”

Pengunjung pameran tidak hanya dapat melihat mesin dan peralatan cetak konvensional, tetapi juga menyaksikan demonstrasi penerapan nyata dari perpaduan dua dunia percetakan. Ini mencakup pembuatan prototipe, toys, merchandise, signage, komponen alat produksi, hingga aplikasi di bidang medis.

Ketua Asosiasi PRINTRIDI, Eric Rudolf Thedjasurya (Eric 3D), menyampaikan bahwa kolaborasi ini menjadi pintu masuk bagi para praktisi dan industri untuk memanfaatkan potensi besar 3D printing dalam mendukung efisiensi serta inovasi nasional. “Ini adalah kali pertama pameran 2D printing dan 3D printing berkolaborasi secara terintegrasi di Indonesia. Penggabungan kedua teknologi ini membuka ruang yang sangat luas bagi percepatan inovasi industri. Melalui ALLPrint Indonesia 2026, kami ingin memperlihatkan bagaimana integrasi solusi cetak 2D dan 3D dapat diterapkan secara nyata dan fleksibel di berbagai lini bisnis,” ujar Eric 3D.

Untuk menyukseskan dorongan transformasi ini, Asosiasi PRINTRIDI mengundang para praktisi, akademisi, produsen, serta penerap teknologi 3D printing dari berbagai sektor untuk berpartisipasi aktif dalam momentum pameran ALLPrint Indonesia 2026. Partisipasi para pemangku kepentingan (stakeholders) dalam ajang B2B ini diharapkan dapat memperkuat kemandirian industri dalam negeri, memacu kreativitas UMKM, serta memperluas koneksi jaringan bisnis berskala nasional dan internasional.

Tinggalkan komentar