Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan Indeks Harga Konsumen (IHK) atau inflasi di Indonesia mengalami peningkatan pada September 2026. Secara bulanan, inflasi tercatat sebesar 0,30%.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menjelaskan bahwa IHK naik dari 111,97 pada Agustus 2026 menjadi 112,31 pada September 2026. “Terjadi peningkatan IHK dari 111,97 pada Agustus 2026 menjadi 112,31 pada september 2026,” ungkap Ateng dalam rilis BPS yang disiarkan secara daring pada Kamis (1/10/2026).
Secara tahunan atau year on year, inflasi Indonesia mencapai 3,28%. Sementara itu, inflasi secara tahun kalender atau year to date (ytd) tercatat sebesar 2,17%.
Ateng menyebutkan, kenaikan harga bahan bakar nonsubsidi dan sejumlah bahan pangan menjadi penyebab terbesar lonjakan inflasi. Kelompok pengeluaran yang paling mendorong inflasi pada September 2026 adalah makanan-minuman dan tembakau, dengan inflasi mencapai 0,88% dan memberikan andil sebesar 0,26% terhadap inflasi keseluruhan.
Secara tahunan, inflasi pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau mencapai 4,37% dengan andil 1,28%. Komoditas yang paling dominan menyumbang inflasi dalam kelompok ini adalah cabai rawit (andil 0,08%), cabai merah (andil 0,06%), daging ayam ras (andil 0,05%), beras (andil 0,03%), telur ayam ras (andil 0,02%), dan kangkung (andil 0,01%).
Selain itu, kelompok pengeluaran transportasi juga berkontribusi pada kenaikan inflasi. Pada September 2026, sektor transportasi mengalami inflasi sebesar 4,84% dengan andil 0,58%. Kenaikan ini didorong oleh tingginya harga bensin, tarif angkutan udara, pelumas, sepeda motor, mobil, hingga biaya pemeliharaan.
Kelompok ketiga yang mengalami lonjakan inflasi adalah perawatan pribadi dan jasa lainnya, dengan tingkat inflasi mencapai 7,77% dan memberikan andil 0,53% terhadap inflasi secara keseluruhan.