Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali berada di bawah tekanan pada sesi pertama perdagangan Selasa (29/9/2026). IHSG tercatat turun 12,86 poin atau 0,21% ke level 6.135, sebagai respons investor terhadap kombinasi sentimen global dan domestik.
Pilarmas Investindo Sekuritas menjelaskan bahwa tekanan terhadap IHSG datang dari berbagai arah, baik eksternal maupun internal. Dari sisi eksternal, bursa saham Asia menunjukkan tren pelemahan di tengah ketidakpastian negosiasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
“Ketidakpastian tersebut menjaga harga minyak di level tinggi dan meningkatkan kekhawatiran bahwa inflasi berbasis energi dapat mendorong bank sentral mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama,” tulis Pilarmas dalam risetnya pada Selasa (29/9/2026).
Harga minyak mentah brent hari ini kembali terpantau naik di atas US$ 107 per barel. Kenaikan ini terjadi di saat ketidakpastian terkait negosiasi AS-Iran masih membayangi pasar, meskipun aliran minyak melalui pipa Timur-Barat Arab Saudi telah mulai kembali beroperasi.
Pejabat Iran dilaporkan meragukan tercapainya kesepakatan sebelum pemilihan paruh waktu AS yang dijadwalkan pada bulan November. Situasi ini menyusul penolakan Presiden AS Donald Trump terhadap proposal terbaru yang diajukan oleh Teheran.
Menurut Pilarmas, kenaikan harga minyak menjadi perhatian pasar karena berpotensi memperbesar tekanan inflasi. Imbal hasil obligasi global pun turut meningkat seiring ekspektasi bahwa bank sentral mungkin perlu mempertahankan atau bahkan memperketat kebijakan moneter untuk meredam inflasi yang dipicu oleh kenaikan harga energi.
“Kondisi tersebut membuat investor cenderung lebih berhati-hati dalam mengoleksi aset berisiko. Kenaikan yield obligasi juga meningkatkan daya tarik aset berbasis bunga dibandingkan saham,” tambah Pilarmas.
Perubahan Aturan Perdagangan Saham di BEI
Di pasar domestik, kenaikan harga minyak yang tinggi juga turut membebani prospek fiskal negara. Tekanan ini datang bersamaan dengan perubahan aturan perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Pilarmas menilai pasar saat ini tengah beradaptasi dengan aturan baru BEI yang menetapkan batas minimum harga saham menjadi Rp 1, dari sebelumnya Rp 50. Perubahan ini secara signifikan mengubah lanskap perdagangan saham, khususnya untuk saham-saham berharga rendah.
Aturan baru tersebut berpotensi meningkatkan fluktuasi harga pada saham-saham papan bawah dan mendorong proses penemuan harga (price discovery) yang baru di pasar. Investor kini lebih mencermati pergerakan saham-saham berharga rendah setelah aturan tersebut mulai berlaku.
Pada sesi pertama perdagangan, beberapa saham mencatat kenaikan terbesar, yaitu DEFI, IFSH, SOSS, BSWD, dan MSIN. Sementara itu, saham yang mengalami penurunan terbesar antara lain MBTO, INTD, FORU, DSFI, dan GOTO.
Dalam kondisi pasar yang dinamis ini, Pilarmas merekomendasikan aksi beli untuk saham LSIP, dengan menempatkan level support di 1.470 dan resistance di 1.645.