Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih dilanda tekanan jual yang signifikan, tercermin dari koreksi 3,09% sepanjang pekan lalu. Di tengah ketidakstabilan pasar ini, saham-saham berbasis komoditas mulai menarik perhatian para analis. Nama-nama seperti PTBA, ADRO, ANTM, HRUM, dan PSAB disebut memiliki potensi untuk memanfaatkan peluang teknikal rebound, meskipun pergerakannya tetap akan sangat dipengaruhi oleh kondisi pasar secara umum dan sentimen harga komoditas global.
Secara analisis teknikal, IHSG masih tertekan dan belum menunjukkan sinyal pembalikan tren yang meyakinkan. Namun, indikator stochastic yang mulai memasuki area jenuh jual memberikan harapan akan adanya potensi rebound. Level support penting bagi indeks berada di kisaran 6.220–6.230. Jika level ini mampu bertahan, IHSG berpotensi menguat menuju 6.320, bahkan berlanjut ke rentang 6.370–6.410. Sebaliknya, jika support tersebut tembus, indeks bisa kembali tergelincir menuju 6.150–6.180.
Pengamat Pasar Modal dan Pendiri Republik Investor, Hendra Wardana, memperkirakan IHSG akan bergerak volatil dengan kecenderungan sideways di pekan terakhir September. Ia melihat IHSG akan mencari keseimbangan baru pasca-koreksi dalam. “Memasuki pekan terakhir September, saya melihat IHSG masih akan bergerak volatil dengan kecenderungan sideways dan mencari keseimbangan baru setelah koreksi cukup dalam,” kata Hendra kepada Investor Daily, Minggu (27/9/2026).
Hendra menyoroti bahwa arus dana asing yang terus keluar dari pasar saham Indonesia menjadi tekanan utama. Pekan lalu, investor asing mencatatkan net sell sekitar Rp3,5 triliun, dan secara year-to-date, total net sell asing telah mencapai Rp77,52 triliun. Hal ini mengindikasikan kehati-hatian investor asing terhadap aset-aset Indonesia.
Selain itu, pergerakan nilai tukar rupiah, yield US Treasury, harga minyak dunia, dinamika geopolitik global, serta ekspektasi kebijakan suku bunga global juga akan menjadi faktor katalis penting yang perlu dicermati. “Selain itu, pergerakan rupiah, yield US Treasury, harga minyak dunia, kondisi geopolitik global serta ekspektasi kebijakan suku bunga global akan menjadi katalis penting,” sambung dia.
Dampak Kebijakan Saham Rp1
Mulai berlakunya kebijakan harga saham minimum Rp1 pada Senin (28/9/2026) diprediksi tidak akan menjadi penentu arah IHSG secara keseluruhan. Hendra berpendapat, dampak terbesar justru akan dirasakan oleh saham-saham berharga rendah yang sebelumnya tertahan di level Rp50.
Dengan dibukanya ruang harga hingga Rp1, saham-saham tersebut berpotensi mengalami volatilitas yang lebih tinggi. Investor yang sebelumnya tidak bisa menjual di bawah Rp50 kini memiliki keleluasaan untuk bertransaksi pada harga lebih rendah. Namun, dalam jangka panjang, kebijakan ini diharapkan dapat memperbaiki price discovery dan meningkatkan fleksibilitas perdagangan.
Hendra mengingatkan investor untuk tetap berhati-hati. “Investor sebaiknya lebih berhati-hati, karena harga Rp1, Rp5 atau Rp10 tidak otomatis berarti murah secara valuasi,” tuturnya.
Strategi Investasi dan Rekomendasi Saham
Dalam kondisi pasar yang penuh ketidakpastian ini, Hendra menyarankan investor untuk masuk secara selektif dan bertahap. Strategi yang disarankan bukanlah agresif penuh, namun juga tidak sepenuhnya wait and see. Investor disarankan memanfaatkan koreksi untuk mengakumulasi saham-saham dengan fundamental kuat dan prospek bisnis yang jelas, sambil tetap menyisakan dana likuid untuk mengantisipasi kemungkinan koreksi lanjutan.
Saham komoditas masih dilirik Hendra. Ia merekomendasikan strategi speculative buy untuk PTBA dengan target harga Rp3.220.
ADRO juga masuk dalam radar rekomendasi dengan strategi speculative buy dan target harga Rp2.860. Momentum pergerakan ADRO perlu dicermati bersama perkembangan harga komoditas global yang dapat menjadi katalis positif. “Strategi saat ini bukan mengejar momentum, melainkan buy on weakness secara terukur dan melakukan stock picking dengan disiplin risiko,” ujar Hendra.
Selain PTBA dan ADRO, SGER dinilai menarik untuk strategi trading buy dengan target harga Rp800. Namun, karakter SGER lebih cocok untuk memanfaatkan momentum jangka pendek, sehingga investor perlu tetap waspada terhadap risiko pergerakan harganya.
Senada dengan itu, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, juga melihat peluang pada saham-saham komoditas. Nafan merekomendasikan add untuk ANTM pada rentang harga Rp3.130–3.260 dengan target harga Rp3.370. Level support saham ini berada di Rp3.130, resistance di Rp3.320, dan stop loss di Rp3.020.
Nafan juga memberikan rekomendasi buy untuk HRUM pada rentang Rp860–890 dengan target harga Rp925. Level support tercatat di Rp860, resistance di Rp895, dan stop loss di Rp805.
Untuk saham PSAB, rekomendasi buy diberikan pada rentang Rp515–545 dengan target harga Rp565. Level support berada di Rp484, resistance di Rp550, dan stop loss di Rp482.
“Strategi yang lebih prudent saat ini adalah masuk secara selektif dan bertahap, bukan melakukan akumulasi secara agresif,” ujar Nafan.
Nafan menambahkan, pelemahan pasar dapat menjadi momentum untuk mengakumulasi saham-saham yang memiliki fundamental solid, neraca keuangan sehat, prospek pertumbuhan yang jelas, dan likuiditas perdagangan yang baik. Bagi investor dengan profil trading, peluang technical rebound dapat dimanfaatkan dengan tetap menerapkan batas risiko yang terukur.