IHSG Menguat Didorong Meredanya Geopolitik dan Penguatan Rupiah

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat kenaikan signifikan sebesar 59,62 poin atau 0,98% pada Rabu (30/9/2026), ditutup di level 6.181,33. Penguatan ini terjadi seiring meredanya ketegangan geopolitik global.

Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas, M Nafan Aji Gusta CTA CSA, menyatakan bahwa potensi peninjauan kembali sanksi Amerika Serikat terhadap Iran turut memberikan sentimen positif. Kabar ini menekan harga minyak dunia dan membuka ruang bagi aset berisiko untuk menguat.

Pada penutupan perdagangan 29 September 2026, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) tercatat turun 3,95% menjadi US$ 88,95 per barel. Sementara itu, harga minyak Brent terkoreksi 1,99% ke level US$ 95,88 per barel. Penurunan harga komoditas energi ini dinilai meredakan kekhawatiran investor mengenai tekanan inflasi global. Selain itu, yield obligasi AS 10 tahun juga mengalami koreksi sebesar 0,10% ke level 5,24%.

Meskipun demikian, Nafan mengingatkan bahwa ruang bagi pasar untuk bernapas masih terbatas. Investor kini tengah menanti sejumlah data ekonomi penting dari Amerika Serikat, termasuk personal consumption expenditures (PCE), produk domestik bruto (GDP), dan data nonfarm payrolls.

“PCE menjadi perhatian utama karena merupakan indikator inflasi pilihan The Fed. Inflasi PCE utama diproyeksikan bertahan di 3,7% secara tahunan, sedangkan core PCE diperkirakan mencapai 3,3%,” tulis Nafan dalam risetnya, Rabu (30/9/2026). Ia menambahkan bahwa kedua angka tersebut masih berada di atas target inflasi The Fed sebesar 2%, sehingga pasar tetap mewaspadai potensi inflasi yang persisten.

Tekanan inflasi ini semakin menarik mengingat konsumsi masyarakat AS yang masih relatif kuat. Belanja konsumen pada Agustus diperkirakan tumbuh 0,8% secara bulanan, meningkat tajam dibandingkan kenaikan 0,2% pada Juli. Kombinasi inflasi tinggi dan konsumsi yang resilien dapat mengindikasikan bahwa permintaan domestik AS belum cukup melemah untuk menekan harga secara signifikan.

Nafan menjelaskan bahwa jika data PCE dan tenaga kerja menunjukkan hasil yang lebih kuat dari konsensus, tekanan terhadap yield obligasi berpotensi berlanjut. Sebaliknya, pelemahan ekonomi dapat memperkuat ekspektasi bahwa The Fed akan menerapkan kebijakan moneter yang lebih longgar.

Pasar juga telah memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin pada Oktober 2026. Yield obligasi AS tenor 10 tahun dan 30 tahun yang masih berada di atas 5% menjadi salah satu risiko bagi aset berisiko.

Rupiah Mulai Bernapas

Dari dalam negeri, DPR telah menetapkan RUU APBN 2027 menjadi Undang-Undang pada Selasa (29/9/2026). Defisit fiskal ditetapkan sebesar 2,4% terhadap PDB atau Rp 671,16 triliun, dengan target pendapatan negara mencapai Rp 3.435,1 triliun. Kepastian APBN 2027 memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai arah kebijakan fiskal dan belanja pemerintah pada tahun mendatang.

Dari sisi fundamental, Bank Indonesia (BI) masih memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 berada dalam kisaran 4,9%-5,7%. Inflasi Agustus tercatat 3,19% secara tahunan, sementara inflasi inti 2,92%, masih berada dalam sasaran BI sebesar 2,5% plus-minus 1%.

Sementara itu, nilai tukar rupiah terapresiasi 0,10% terhadap dolar AS, ditutup pada level Rp 17.946,5 per dolar AS. Penguatan ini terjadi seiring dengan mulai meredanya tekanan dari kenaikan yield obligasi AS dan harga minyak. Menurut Nafan, stabilitas rupiah menjadi salah satu faktor domestik yang perlu diperhatikan. Penguatan nilai tukar rupiah di tengah meredanya tekanan eksternal diharapkan dapat membantu menahan gelombang capital outflow.

Tinggalkan komentar