IHSG Diperkirakan Melemah, Aturan Saham Rp 1 Mulai Berlaku

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan rawan terkoreksi pada perdagangan pekan ini, dengan potensi menguji area 6.186–6.200. Pergerakan IHSG pekan ini dibayangi sejumlah sentimen global, di tengah dimulainya era baru perdagangan saham dengan harga minimum Rp 1 per saham.

Pada penutupan perdagangan Jumat (25/9/2026), IHSG melemah 56,72 poin atau 0,90% ke level 6.241,89. Phintraco Sekuritas menetapkan resistance IHSG pekan ini di level 6.400, pivot 6.300, dan support 6.200.

“Diperkirakan IHSG pekan ini masih berpotensi menguji level 6.186–6.200. Proyeksi tersebut muncul setelah IHSG ditutup di bawah moving average (MA) 100 hari dan terkoreksi 3,09% sepanjang pekan lalu,” tulis Phintraco Sekuritas dalam risetnya, Senin (28/9/2026).

Dari pasar global, Wall Street ditutup menguat pada Jumat (25/9/2026). Penguatan ditopang saham sektor teknologi dan koreksi harga minyak, meskipun yield US Treasury masih berada di level tinggi.

Investor juga mencermati perkembangan hubungan Amerika Serikat (AS) dan Iran serta peluang dibukanya kembali Selat Hormuz. Pasar menunggu kelanjutan perundingan kedua negara setelah Iran mengusulkan AS kembali pada nota kesepahaman Juni yang sebelumnya gagal mencapai kesepakatan untuk mengakhiri konflik Timur Tengah.

Sementara itu, AS dan China sepakat memperpanjang gencatan senjata perang dagang hingga 10 Januari 2027. Kesepakatan tersebut sebelumnya dijadwalkan berakhir pada November 2026.

Era Saham Rp 1 Dimulai

Di dalam negeri, perhatian investor juga tertuju pada perubahan aturan Bursa Efek Indonesia (BEI) yang mulai berlaku Senin (28/9/2026). BEI menurunkan batas minimum harga saham di pasar reguler dan pasar tunai dari sebelumnya Rp 50 menjadi Rp 1 per saham.

Untuk saham dengan harga Rp 1 hingga Rp 10, batas auto rejection atas (ARA) dan auto rejection bawah (ARB) ditetapkan sebesar Rp 1. Sementara itu, untuk saham di atas Rp 10, ketentuan ARB asimetris sebesar 15% masih berlaku hingga 31 Desember 2026. “Mulai 1 Januari 2027, ketentuan ARB tersebut kembali diterapkan secara simetris,” tambah Phintraco Sekuritas.

BEI juga menghapus empat kriteria dalam Papan Pemantauan Khusus atau Full Call Auction (FCA), yakni kriteria 1, 6, 7, dan 10. Sebanyak 92 saham yang sebelumnya masuk FCA berdasarkan kriteria tersebut dikembalikan ke papan pencatatan semula.

“Perubahan aturan ini menjadi salah satu perhatian pasar karena akan mengubah mekanisme perdagangan saham berharga rendah. Investor perlu mencermati dinamika harga dan likuiditas setelah ketentuan baru berlaku,” papar Phintraco Sekuritas.

Selain itu, pelaku pasar akan menunggu sejumlah data ekonomi domestik pada pekan ini, termasuk Manufacturing PMI, neraca perdagangan, dan inflasi yang dijadwalkan dirilis pada Kamis (1/10/2026).

Dalam kondisi tersebut, Phintraco Sekuritas merekomendasikan ADRO, ITMG, AADI, BBRI, dan BBCA sebagai pilihan untuk pekan ini.

Tinggalkan komentar