JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan hebat pada perdagangan Kamis, 1 Oktober 2026, ditutup anjlok 61,63 poin atau 1,02% ke level 6.009,5. IHSG bahkan sempat jebol di bawah level psikologis 6.000 dan menyentuh titik terendah di 5.973.
Pe-lemahan IHSG hari ini terjadi di tengah kombinasi berbagai faktor, termasuk tingginya imbal hasil (yield) obligasi Amerika Serikat, aksi jual investor asing, tekanan terhadap nilai tukar rupiah, serta sentimen seputar perombakan kabinet (reshuffle).
Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menjelaskan bahwa pelemahan IHSG dipengaruhi oleh sentimen eksternal dan domestik. Dari sisi eksternal, level yield obligasi AS yang relatif tinggi, tekanan terhadap rupiah, dan ketidakpastian geopolitik masih membatasi minat investor terhadap aset berisiko di pasar negara berkembang.
Sementara itu, dari sisi domestik, Nafan menyoroti bahwa tekanan jual dari investor asing menjadi faktor utama. Pada perdagangan sebelumnya, investor asing tercatat melakukan net sell sekitar Rp 1,56 triliun di pasar reguler. “Secara kumulatif, IHSG juga baru melewati periode September yang cukup berat dengan koreksi sekitar 7,95%, sehingga sentimen pasar masih cenderung rapuh,” ujar Nafan kepada Investor Daily, Kamis (1/10/2026).
Nafan menambahkan, pasar merespons perkembangan reshuffle kabinet yang kembali memunculkan ketidakpastian terkait arah kebijakan pemerintah ke depan. Dampak reshuffle kabinet terhadap pasar sangat bergantung pada persepsi investor terhadap figur yang ditunjuk dan kesinambungan kebijakan ekonomi.
Dalam jangka pendek, Nafan menilai reshuffle dapat meningkatkan volatilitas karena pasar perlu menilai kembali arah kebijakan, koordinasi antarkementerian, serta implikasinya terhadap program fiskal dan ekonomi. “Pasar saat ini kemungkinan lebih membutuhkan policy clarity dibanding sekadar perubahan komposisi kabinet,” tegasnya.
Menurut Nafan, reaksi pasar terhadap reshuffle perlu dibedakan antara reaksi awal dan dampak fundamentalnya. Apabila perubahan tersebut dipersepsikan mampu memperkuat efektivitas pemerintahan, menjaga kesinambungan kebijakan, dan memberikan kepastian terhadap agenda reformasi maupun investasi, dampaknya dapat lebih konstruktif dalam jangka menengah.
Investor Selektif
Nafan mengamati bahwa sikap investor saat ini cenderung lebih defensif dan selektif. Investor melakukan rebalancing portofolio dengan mengurangi eksposur pada saham-saham berkapitalisasi besar yang memiliki sensitivitas tinggi terhadap arus modal asing.
Di sisi lain, investor mulai mencari saham atau sektor dengan fundamental kuat dan katalis spesifik. Kondisi ini tercermin dari masih berlanjutnya net foreign sell dan tekanan pada sejumlah saham big caps.
Untuk jangka pendek hingga menengah, Nafan melihat IHSG masih berpotensi bergerak volatil dan cenderung konsolidatif sebelum membentuk tren pemulihan yang lebih kuat. “Secara teknikal, area 6.019 menjadi support penting, dengan support berikutnya di sekitar 5.854. Sementara itu, area 6.185-6.240 menjadi resistance yang perlu ditembus untuk mengonfirmasi technical rebound,” papar Nafan.
Selama IHSG mampu bertahan di atas area support tersebut, peluang technical rebound tetap terbuka, terutama apabila tekanan jual asing mulai mereda dan kondisi rupiah maupun pasar global membaik. Namun, apabila support 6.019 ditembus secara signifikan, risiko berlanjutnya koreksi perlu diantisipasi.
Dalam jangka menengah, katalis yang perlu dicermati antara lain stabilisasi rupiah, arah yield obligasi AS, kebijakan Bank Indonesia, perkembangan arus modal asing, serta kualitas data ekonomi domestik. Rilis inflasi September dan neraca perdagangan Agustus juga menjadi indikator penting untuk menilai daya beli domestik sekaligus ruang kebijakan moneter.
Nafan menilai fase saat ini merupakan periode konsolidasi dan pembentukan kembali kepercayaan pasar. “Peluang rebound tetap terbuka apabila tekanan eksternal dan foreign outflow mulai mereda,” tutupnya.