Tekanan terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) semakin terasa pada perdagangan Kamis (1/10/2026). IHSG sempat jebol ke bawah level psikologis 6.000 dan menyentuh level terendah 5.973. Hingga berita ini ditulis, IHSG masih terkoreksi 48,74 poin atau 0,8% ke level 6.022,83.
Pelemahan IHSG terjadi bersamaan dengan koreksi mayoritas bursa global dan regional Asia. Di saat yang sama, nilai tukar rupiah kembali menunjukkan pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Head of Retail Research MNC Sekuritas Herditya Wicaksana menyatakan, koreksi IHSG hari ini sejalan dengan pergerakan bursa global dan regional Asia yang mayoritas mengalami pelemahan. Menurutnya, sentimen global masih menjadi salah satu beban utama bagi pergerakan IHSG.
“Sentimen global masih cenderung memberatkan pergerakan IHSG, di mana yield obligasi AS berada di atas 5,2% dan juga outflow asing masih muncul di IHSG belakangan ini,” ujar Herditya, Kamis (1/10/2026).
Selain itu, ia menambahkan, imbal hasil (yield) obligasi AS yang tercatat berada di atas 5,2% menjadi salah satu faktor pemberat. Aksi jual investor asing atau foreign outflow juga masih membayangi pasar saham Indonesia.
Dari dalam negeri, Herditya menyebutkan, pelemahan rupiah terhadap dolar AS juga turut menekan IHSG hari ini. Rupiah ditutup anjlok 72 poin atau 0,4% ke level Rp 17.966 per dolar AS.
Reshuffle Kabinet Jadi Perhatian
Selain sentimen global dan pergerakan rupiah, pasar saham domestik juga mencermati perombakan Kabinet Merah Putih yang berlangsung pada hari yang sama, Kamis (1/10/2026). Pasar masih mencermati dampak dari rotasi kabinet tersebut terhadap arah kebijakan pemerintah dan sentimen investasi.
Dari sisi teknikal, Herditya menambahkan, tekanan terhadap IHSG juga meningkat setelah indeks menembus area support 6.013. “Dengan terkoreksi dan menembus area support tersebut, nampaknya tekanan masih muncul dan akan membuat IHSG masih koreksi,” jelas Herditya.