Perkembangan inklusi keuangan di Indonesia telah mencapai indeks 93,61% berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026. Namun, tantangan berikutnya adalah membangun kesehatan finansial, terutama bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di akar rumput.
Kesehatan finansial bagi UMKM akar rumput tidak hanya sebatas akses layanan keuangan, tetapi juga kemampuan mengelola kebutuhan harian, menghadapi goncangan pendapatan tak terduga, serta mengembangkan usaha. Menjawab tantangan ini, Amartha Financial membentuk Indonesian Coalition for Financial Health (ICFH).
ICFH merupakan platform kolaborasi lintas sektor yang bertujuan memperkuat agenda kesehatan finansial komunitas akar rumput. Pada Kamis (24/9/2026), ICFH menggelar forum Indonesian Coalition for Financial Health: The First Step Forward. Forum ini melibatkan 15 institusi lintas sektor sebagai langkah awal mengarusutamakan kesehatan keuangan dan mendorong aksi nyata intervensi.
Head of Secretariat ICFH sekaligus Chief Compliance & Sustainability Officer Amartha, Aria Widyanto, memaparkan hasil riset “Financial health check-up” kepada lebih dari 1.800 responden UMKM. Hasil riset menunjukkan bahwa hanya empat dari sepuluh UMKM di Indonesia yang memiliki kesehatan finansial memadai.
“Walaupun akses keuangan dan kepercayaan diri sudah bagus, namun kemampuan UMKM bertahan terhadap goncangan dan memiliki kemampuan bertumbuh masih rendah. Dari bukti empiris ini, intervensi dan kebijakan yang lebih terorkestrasi diperlukan untuk memperkuat ekosistem secara keseluruhan,” kata Aria Widyanto dalam keterangan tertulisnya, Senin (28/9/2026).
Sebagai aksi nyata, Amartha bersama Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) dan Women’s World Banking (WWB) telah menjalankan prototipe market linkage dan formalisasi usaha “Tumbuhkan Peluang” di Yogyakarta. Program ini bersiap diperluas ke Palu dan Palembang.
Amartha juga menyiapkan produk pembiayaan seperti invoice financing dan export financing bagi UMKM yang siap untuk upscale dan terhubung dengan agregator. Hal ini bertujuan untuk memastikan ketersediaan sumber pembiayaan bagi mereka.
Temuan Amartha sejalan dengan riset WWB yang menunjukkan bahwa meskipun inklusi keuangan memperluas akses pembiayaan, hambatan struktural masih menghalangi pengusaha perempuan untuk mencapai ketahanan finansial sejati. Minimnya instrumen perlindungan usaha menjadi kendala, sehingga diperlukan kebijakan yang inklusif dan responsif gender, sebagaimana ditegaskan dalam publikasi resmi Policy Handbook for Women’s Financial Inclusion.
Agnes Salyanty, Sr. Research Lead Southeast Asia Women’s World Banking, menyampaikan bahwa perempuan UMKM di Indonesia adalah pengelola keuangan yang disiplin. Namun, tantangan global di banyak negara berkembang adalah mayoritas produk keuangan dirancang untuk membiayai, belum melindungi.
“Kesehatan finansial baru benar-benar terwujud apabila ekosistem mulai dari produk, kebijakan, hingga rantai distribusi mampu memberikan solusi yang menjawab risiko riil harian mereka,” ujarnya.
Ke depan, ICFH akan terus membuka ruang kolaborasi dengan lebih banyak pihak dari sektor keuangan, pemerintah, dunia usaha, lembaga riset, akademisi, hingga komunitas. Tujuannya adalah memperkuat agenda financial health di Indonesia.
“Kolaborasi lintas sektor menjadi penting, dengan masing-masing pihak berkontribusi sesuai kapasitas dan keahliannya sekaligus membangun bukti dari kondisi nyata di lapangan agar inovasi dan kebijakan dapat dikembangkan di atas landasan yang robust dan relevan,” tutup Aria.