Hindari Pinjaman Online, Gen Z Perlu Perkuat Literasi Keuangan

Generasi Z diminta untuk tidak menjadikan pinjaman daring atau fintech peer-to-peer lending sebagai solusi utama dalam memenuhi kebutuhan, terutama yang bersifat konsumtif. Penguatan literasi keuangan sangat krusial agar mereka terhindar dari risiko kredit macet.

Konsultan dan Perencana Keuangan Elvi Diana menekankan, “Pinjaman bukan tambahan pendapatan. Pinjaman adalah kewajiban yang harus dikembalikan. Karena itu, sebelum mengambil pembiayaan, harus ada perhitungan yang jelas mengenai kemampuan membayar.”

Elvi mendorong peningkatan pemahaman literasi keuangan di kalangan Generasi Z dan Milenial. Tujuannya agar kelompok usia muda ini lebih bijak dalam memanfaatkan layanan pembiayaan digital, termasuk industri pinjaman daring (Pindar).

Dominasi Pembiayaan Bermasalah oleh Usia Muda

Pernyataan Elvi merespons catatan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengenai profil risiko pembiayaan industri pinjaman daring pada Juli 2026. OJK mencatat bahwa masalah pembiayaan atau kredit macet industri Pindar masih didominasi oleh kelompok usia muda, rentang 19-34 tahun, dengan kontribusi sebesar 48,22% dari total pembiayaan bermasalah.

Menurut Elvi, perkembangan ini menjadi momentum penting untuk meningkatkan pemahaman masyarakat, khususnya generasi muda, mengenai kemampuan membayar, biaya pinjaman, risiko keterlambatan, serta konsekuensi dari penggunaan pinjaman daring yang berlebihan.

“Literasi keuangan harus diperkuat sejak generasi muda mulai memiliki penghasilan dan akses terhadap berbagai produk keuangan digital. Jangan sampai kemudahan mendapatkan pinjaman justru membuat seseorang mengambil pembiayaan tanpa menghitung kemampuan membayarnya,” ujar Elvi.

Pengambilan Keputusan Rasional dan Pelindungan Konsumen

Elvi menambahkan bahwa kemudahan dan kecepatan layanan fintech perlu diimbangi dengan kemampuan konsumen untuk mengambil keputusan keuangan secara rasional. Sebelum mengajukan pinjaman, calon peminjam wajib memastikan tujuan pembiayaan, jumlah kewajiban yang harus dibayar, jangka waktu pelunasan, serta kesesuaiannya dengan pendapatan dan pengeluaran bulanan.

Edukasi keuangan juga dinilai perlu diarahkan pada kemampuan membuat anggaran, membangun dana darurat, membedakan antara kebutuhan dan keinginan, serta memahami risiko utang berlapis.

Di sisi lain, peningkatan literasi keuangan harus berjalan seiring dengan penguatan pelindungan konsumen. “Generasi muda harus mampu membedakan antara penyelenggara yang legal dan ilegal. Jangan hanya melihat seberapa cepat pinjaman bisa cair, tetapi juga harus memeriksa legalitas dan memahami seluruh kewajiban yang muncul,” jelas Elvi.

Untuk mendekatkan edukasi ini kepada Gen Z dan Milenial, pendekatan yang digunakan perlu dekat dengan kehidupan mereka, seperti melalui media sosial, kampus, komunitas, tempat kerja, dan platform digital yang populer di kalangan generasi muda.

“Literasi keuangan jangan hanya berbicara tentang teori. Anak muda harus dibekali keterampilan praktis: bagaimana menyusun anggaran, menghitung cicilan, mengelola utang, membangun dana darurat, dan mengenali jebakan pinjaman ilegal,” tuturnya.

Elvi berharap penguatan literasi keuangan dapat membangun generasi muda yang tidak hanya memiliki akses terhadap layanan keuangan digital, tetapi juga mampu menggunakannya secara sehat, bertanggung jawab, dan sesuai kemampuan finansial. Tujuannya adalah memastikan mereka menjadi pengguna yang cerdas, kritis, dan mampu mengendalikan keputusan keuangan mereka sendiri.

Tinggalkan komentar