Harga batu bara menunjukkan kenaikan signifikan pada perdagangan Kamis (1/10/2026), dipicu oleh perkiraan lonjakan permintaan listrik di India yang beriringan dengan gangguan pasokan energi.
Data perdagangan mencatat harga batu bara Newcastle untuk kontrak Oktober 2026 meningkat US$ 2,8 menjadi US$ 149,3 per ton. Kontrak November 2026 juga naik US$ 2,2 ke level US$ 149,4 per ton, sementara kontrak Desember 2026 bertambah US$ 1,75 menjadi US$ 150,2 per ton.
Sementara itu, harga batu bara Rotterdam untuk kontrak Oktober 2026 naik US$ 1,65 menjadi US$ 143,9 per ton. Kontrak November 2026 melonjak US$ 1,9 ke US$ 143,3 per ton, dan kontrak Desember 2026 menanjak US$ 1,55 menjadi US$ 141,95 per ton.
Kekurangan pasokan listrik di India dilaporkan melonjak ke level tertinggi dalam tiga tahun pada September 2026. Regulator Grid-India mencatat defisit listrik mencapai 560 juta kilowatt-hour (kWh), angka tertinggi sejak Agustus 2023, seperti dilaporkan Reuters berdasarkan data harian.
Peningkatan konsumsi listrik ini didorong oleh permintaan yang lebih tinggi dari sektor rumah tangga dan industri. Situasi diperburuk oleh fenomena El Nino yang menyebabkan curah hujan lebih rendah dan suhu yang lebih tinggi.
Total pembangkitan listrik India pada September mencapai 174,17 miliar kWh, naik 11,3% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pembangkit listrik berbahan bakar batu bara menjadi tulang punggung pasokan, dengan produksi listriknya meningkat 13,3% secara tahunan. Kontribusinya terhadap total pembangkitan naik menjadi 66,03% dari 64,6% pada Agustus.
Stok Pembangkit Menipis
Lonjakan pembangkitan listrik berbasis batu bara terjadi di saat persediaan bahan bakar di sejumlah pembangkit mulai menipis. Hampir 40% pembangkit listrik berbahan bakar batu bara yang beroperasi di India kini memiliki stok di bawah level kritis, yaitu di bawah 25% dari kebutuhan persediaan.
Kondisi ini terjadi di tengah meningkatnya permintaan listrik akibat El Nino, sementara pasokan batu bara juga terganggu oleh hujan monsun. India masih sangat bergantung pada batu bara sebagai sumber utama pembangkitan listriknya. Oleh karena itu, peningkatan kebutuhan listrik berpotensi menjaga permintaan batu bara tetap tinggi.
International Energy Agency (IEA) dalam laporannya Coal Mid-Year Update 2026 memperkirakan total permintaan batu bara India akan meningkat 4,2% menjadi 1,353 miliar ton tahun ini. Kenaikan ini membalikkan penurunan tipis permintaan pada tahun sebelumnya.
IEA menyebutkan bahwa meningkatnya kebutuhan listrik serta gangguan pasokan minyak dan gas di Selat Hormuz menjadi faktor yang turut mendorong permintaan batu bara India. Kombinasi permintaan listrik yang tinggi, stok pembangkit yang menipis, serta ketidakpastian pasokan energi global menjadi sentimen yang menopang prospek pasar batu bara.