Harga Batu Bara Meroket, Ekspor Indonesia Terkendala Produksi dan Logistik

Harga batu bara global mengalami kenaikan signifikan pada perdagangan Senin (28/9/2026). Lonjakan ini terjadi di tengah ketatnya pasokan di pasar internasional, seiring meningkatnya permintaan batu bara untuk menggantikan pasokan gas yang terganggu dari kawasan Teluk Persia. Sayangnya, ekspor batu bara dari Indonesia justru menghadapi tekanan akibat penurunan produksi dan keterbatasan dalam sistem pengangkutan.

Berdasarkan data perdagangan, harga batu bara Newcastle untuk kontrak Oktober 2026 melonjak US$ 2,25, mencapai level US$ 146 per ton. Kontrak November 2026 menyusul dengan kenaikan US$ 1,85 ke level US$ 147,35 per ton, sementara kontrak Desember 2026 terkerek US$ 0,8 menjadi US$ 148,95 per ton.

Di pasar Rotterdam, harga batu bara untuk kontrak Oktober 2026 juga melonjak US$ 1,25 menjadi US$ 138 per ton. Kontrak November 2026 melejit US$ 1,15 ke level US$ 137,55 per ton, dan kontrak Desember 2026 naik US$ 1,15 menjadi US$ 137,75 per ton.

Indonesia, sebagai eksportir batu bara terbesar di dunia, belum sepenuhnya mampu memanfaatkan momentum kenaikan harga ini. Kondisi tersebut terjadi ketika sejumlah negara mulai meningkatkan penggunaan batu bara untuk mengimbangi berkurangnya pasokan gas alam dari Teluk Persia. Pasokan batu bara dari Indonesia dilaporkan berada dalam kondisi paling ketat dalam beberapa tahun terakhir.

Ekspor batu bara Indonesia tercatat turun ke level terendah dalam lima tahun pada September. Hal ini disebabkan oleh pemangkasan kuota produksi oleh pemerintah serta rendahnya permukaan air di sejumlah sungai utama yang krusial untuk transportasi batu bara. Kombinasi penurunan produksi dan kendala pengangkutan tersebut membuat pasokan Indonesia semakin terbatas.

Perubahan permintaan terjadi di saat pasar sedang ketat dari sisi pasokan. “Skala Indonesia berarti penurunan produksi dan ekspor dapat memberikan dampak yang lebih besar,” ujar Senior Vice President Argus Media Muhamad Fadhil dalam konferensi Fastmarkets’ CoalTrans Asia.

Di sisi lain, permintaan batu bara global diprediksi akan mencapai rekor tahun ini. International Energy Agency (IEA) memperkirakan permintaan akan terdorong oleh kenaikan harga gas akibat hampir tertutupnya Selat Hormuz dan kebutuhan pendinginan yang meningkat akibat fenomena El Niño yang kuat.

Sejumlah pembeli batu bara Indonesia, termasuk China, Korea Selatan, dan Jepang, telah mulai mengalihkan penggunaan energi mereka dari gas ke batu bara dalam bauran pembangkit listrik. Di China, negara konsumen batu bara terbesar dunia, harga batu bara juga telah mencapai level tertinggi sejak 2023.

Kenaikan harga di China terjadi setelah kecelakaan fatal pada Mei memicu serangkaian inspeksi keselamatan yang menekan produksi domestik. Memasuki musim dingin, peningkatan pembelian oleh China berpotensi memberikan dorongan tambahan terhadap pasar batu bara global. Namun, tingginya harga juga berisiko menahan permintaan spot terhadap batu bara Indonesia.

Pemerintah Indonesia sebelumnya telah berupaya memberikan ruang bagi perusahaan tambang untuk memanfaatkan kenaikan harga dengan merevisi kuota produksi pada pertengahan tahun. Namun, sejumlah perusahaan yang sebelumnya terkena pemangkasan kuota harus menghentikan produksi dan membutuhkan waktu untuk kembali meningkatkan kapasitasnya.

Salah satu perusahaan yang terdampak adalah PT Bayan Resources Tbk. Kuota produksi perusahaan ini sempat dipangkas pada awal tahun sebelum kemudian dinaikkan kembali. Kondisi perubahan kuota dan kebijakan penjualan batu bara domestik sebelumnya disebut telah menimbulkan ketidakpastian bagi para pembeli asing.

Matthew Boyle, Head of Research Ashon International DMCC, menyatakan bahwa ketidakpastian tersebut menyulitkan perusahaan dalam melakukan pembelian batu bara Indonesia. Volume penjualan batu bara Indonesia yang dilakukan perusahaannya diperkirakan turun dari sekitar 4 juta ton tahun lalu menjadi kurang dari 2 juta ton tahun ini.

Sementara itu, pemerintah juga tengah memperkuat pengawasan ekspor melalui Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI). Lembaga tersebut ditugaskan untuk mengawasi praktik yang merugikan negara, seperti under-invoicing. Presiden DSI Luke Mahony menegaskan lembaganya tidak akan mengganggu arus ekspor batu bara Indonesia. “DSI tidak hadir untuk mengganggu arus ekspor Indonesia. Eksportir akan tetap melakukan ekspor,” kata Mahony.

Tinggalkan komentar