Gus Ipul Ajak Lulusan Poltekesos Jadi Agen Perlinsos dan Penggerak Sekolah Rakyat

Menteri Sosial Saifullah Yusuf, yang akrab disapa Gus Ipul, menyerukan kepada para wisudawan Politeknik Kesejahteraan Sosial (Poltekesos) Bandung untuk berperan aktif dalam memperkuat perlindungan sosial. Ajakan ini disampaikan Gus Ipul agar para lulusan dapat menjadi Agen Perlindungan Sosial (Perlinsos) dan terlibat dalam penyelenggaraan Sekolah Rakyat.

Menurut Gus Ipul, langkah ini merupakan wujud nyata pengamalan Pasal 34 Undang-Undang Dasar 1945. Pasal tersebut mengamanatkan negara untuk memelihara fakir miskin dan anak terlantar, mengembangkan sistem jaminan sosial, serta memberdayakan masyarakat yang lemah dan tidak mampu. Ajakan ini disampaikan saat Sidang Senat Terbuka Wisuda Magister Terapan dan Sarjana Terapan Poltekesos Bandung, Senin (28/9).

Gus Ipul menekankan bahwa lulusan Poltekesos, sebagai calon pekerja sosial, memegang peranan krusial dalam menjangkau dan mendampingi masyarakat yang membutuhkan. Lingkup pendampingan ini mencakup anak terlantar, lansia, penyandang disabilitas, korban bencana, hingga keluarga prasejahtera.

“Jangan menunggu orang miskin mengetuk pintu kita, kitalah yang harus mengetuk pintu mereka,” ujar Gus Ipul dalam keterangan tertulisnya.

Untuk memastikan program sosial tersalurkan secara efektif, Gus Ipul menyoroti pentingnya pemutakhiran data secara berkala. Ia menjelaskan bahwa kondisi sosial masyarakat terus berubah, sehingga data perlu diperbarui untuk mencerminkan realitas terkini.

“Hari ini ada yang lahir, ada yang meninggal, ada yang menikah, ada yang pindah tempat, ada yang naik kelas, ada yang turun kelas. Maka data harus diperbarui,” tegasnya.

Data yang mutakhir sangat penting untuk memastikan bantuan sosial (bansos) tepat sasaran. Pemerintah mengacu pada Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) sebagai acuan dalam menyempurnakan sasaran program sosial.

“Prinsipnya sederhana, yang berhak jangan sampai tidak menerima, yang tidak berhak jangan terus menerima (bansos). Itulah bansos tepat sasaran,” tutur Gus Ipul.

Oleh karena itu, ia mengajak para wisudawan untuk mendukung Gerakan Peduli Tetangga dengan menjadi Agen Perlindungan Sosial (Perlinsos). Agen ini diharapkan dapat membantu masyarakat dalam mengakses layanan, memperbarui data, serta menyampaikan usulan dan sanggahan melalui mekanisme yang tersedia.

“Sepulang dari sini, jadilah Agen Perlindungan Sosial (Perlinsos). Setelah itu mulailah bekerja dari tetangga, bantu mereka mendaftar, bantu memperbaharui data, bantu menyampaikan usul dan sanggah,” imbaunya.

Gus Ipul juga mengingatkan bahwa Agen Perlinsos dilarang meminta bayaran, menjanjikan bansos, atau memanipulasi data. Tugas utama mereka adalah membantu masyarakat mengakses dan memperbarui data, sementara penentuan kelayakan penerima bantuan sepenuhnya menjadi wewenang sistem.

“Saya ajak menjadi relawan. Siapa tahu (dengan) menjadi relawan (dan) membantu keluarga miskin, saudara-saudara sekalian akan mendapatkan tempat terbaik untuk mengabdi,” tambahnya.

Lebih lanjut, Gus Ipul menjelaskan bahwa peran pekerja sosial tidak berhenti pada pendampingan individu. Lulusan Poltekesos juga dapat berkontribusi dalam penyelenggaraan Sekolah Rakyat.

“Sekolah Rakyat bukan sekadar membangun ruang kelas. Sekolah Rakyat adalah cara negara memutus mata rantai kemiskinan,” katanya.

Di Sekolah Rakyat, pekerja sosial dibutuhkan untuk melakukan asesmen, menjangkau keluarga, mendampingi anak, menangani persoalan psikososial, serta menjadi penghubung antara anak, keluarga, sekolah, dan berbagai layanan yang tersedia.

“Itulah pekerja sosial masa depan, bukan hanya mencatat masalah tetapi membantu mengubah jalan hidup manusia,” ujar Gus Ipul.

Ia pun mengundang para lulusan Poltekesos untuk bergabung dalam penyelenggaraan Sekolah Rakyat melalui proses seleksi. Kebutuhan mencakup guru, wali asrama, wali asuh, dan tenaga kependidikan lain yang dinilai sangat sesuai dengan kualifikasi lulusan Poltekesos.

“Saya undang para wisudawan untuk mengabdi di Sekolah Rakyat. Tentu melalui proses seleksi. Di sana dibutuhkan guru, wali asrama, wali asuh, dan tenaga kependidikan lain yang insya Allah lulusan Poltekesos sangat memenuhi syarat untuk menjadi bagian dari penyelenggaraan Sekolah Rakyat,” tuturnya.

Gus Ipul berharap kesempatan ini menjadi ruang bagi lulusan Poltekesos untuk mengamalkan ilmu sekaligus memperluas pengabdian kepada masyarakat. Ia berpesan agar para lulusan menjadi pribadi yang kontributif dan pencipta perubahan.

“Jadilah kontributif karena ilmu harus menghadirkan manfaat. Jangan hanya menjadi pencari pekerjaan, jadilah pencipta perubahan. Jangan hanya mengejar masa depan saudara sendiri. Mari kita bantu orang lain menemukan masa depannya,” tutup Gus Ipul.

Prosesi wisuda yang dihadiri oleh 372 wisudawan ini dilanjutkan dengan orasi ilmiah oleh Guru Besar FISIP Universitas Nasional (UNAS) Prof. Dr. Aris Munandar, M.Si. Pengukuhan para wisudawan dilakukan oleh Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono.

“Bismillahirrahmanirrahim. Pada hari ini, Senin 28 September 2026, sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Saya kukuhkan saudara-saudara sebagai Magister Terapan Pekerjaan Sosial dan Sarjana Terapan Sosial Politeknik Kesejahteraan Sosial Bandung 2026,” ucap Agus Jabo.

Dalam acara tersebut, empat lulusan terbaik dari masing-masing program studi dilantik: Aryohaji Istyawan (Program Studi Pekerjaan Sosial, Magister Terapan), Salma Fauzi (Program Studi Pekerjaan Sosial), Pika Rosiawati (Program Studi Perlindungan dan Pemberdayaan Sosial), serta Gina Rizqia Salsabila (Program Studi Rehabilitasi Sosial).

Rangkaian wisuda dilanjutkan dengan penyerahan ijazah oleh Ketua Senat sekaligus Direktur Poltekesos Bandung Suharma, pemindahan kuncir toga oleh Wamensos, dan pemberian ucapan selamat dari Sekretaris Jenderal Kemensos Robben Rico. Acara ini juga dihadiri pejabat tinggi Kemensos, Staf Khusus Menteri Sosial, perwakilan pemerintah daerah, serta pimpinan dari berbagai institusi pendidikan dan organisasi.

Tinggalkan komentar