Gangguan irama jantung atau aritmia kini semakin banyak ditemukan pada usia muda di Indonesia. Sayangnya, gejala penyakit ini sering kali tidak disadari, sehingga deteksi dini menjadi sangat penting untuk mencegah risiko fatal seperti kematian mendadak.
Pada peringatan Hari Jantung Sedunia yang jatuh setiap 29 September, kampanye ‘Let’s Check the Beat’ digalakkan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai penyakit jantung. Pesan ‘Don’t Miss the Beat’ menekankan pentingnya mengenali sinyal tubuh, khususnya dari jantung. “Kita ingin mengajak masyarakat untuk mengenali sinyal-sinyal yang dapat kita rasakan dari tubuh kita sendiri, khususnya dari jantung,” ujar Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kemenkes, dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid, dalam kampanye ‘Let’s Check the Beat’ di RS Siloam TB Simatupang, Jakarta, Selasa (29/9/2026).
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), penyakit kardiovaskular menjadi penyebab sekitar 19,8 juta kematian setiap tahun, atau sepertiga dari total kematian global. Di Indonesia, Survei Kesehatan Indonesia mencatat prevalensi penyakit jantung yang masih cukup tinggi.
Dr. Siti menyoroti masalah gangguan irama jantung, termasuk atrial fibrilasi, yang sering kali tidak terdeteksi dini. Padahal, aritmia dapat memicu stroke, gangguan jantung, hingga kematian mendadak. “Inilah yang menjadi tantangan karena sebagian penyakit tersebut dapat berkembang secara diam-diam di dalam tubuh tanpa menunjukkan gejala yang jelas,” jelasnya.
Skrining dan Cek Kesehatan Gratis
Pemerintah terus berupaya menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat penyakit tidak menular, seperti stroke dan penyakit jantung, dengan mengendalikan faktor risiko seperti hipertensi, diabetes melitus, gangguan lipid, dan obesitas.
Sebagai bagian dari upaya promotif dan preventif, pemerintah telah meluncurkan program Cek Kesehatan Gratis (CKG). “Melalui program tersebut, kami menyediakan akses skrining kesehatan bagi masyarakat Indonesia. Tahun ini, target kami adalah sekitar 130 juta masyarakat untuk mendapatkan skrining,” kata dr. Siti.
Pemeriksaan dalam CKG mencakup skrining penyakit kardiovaskular, termasuk pengukuran tekanan darah, indeks massa tubuh (BMI), dan pemeriksaan Elektrokardiogram (EKG). Namun, ketersediaan alat EKG di tingkat puskesmas masih menjadi tantangan karena belum merata. Saat ini, jumlah alat EKG yang tersedia sekitar 2.000 unit.
Kampanye ‘Let’s Check the Beat’ yang diinisiasi Siloam dinilai sangat penting karena memberikan akses skrining preventif dan promotif, sejalan dengan semangat CKG, sekaligus mengedukasi masyarakat untuk mengenali sinyal tubuh.
Temuan Aritmia pada Usia Muda
Ketua InaHRS, dr. Erika Maharani, Sp.JP(K), menekankan pentingnya skrining dan CKG mengingat aritmia banyak diderita oleh orang Indonesia berusia muda. Kampanye ‘Let’s Check the Beat’ yang telah menjangkau ribuan orang melalui edukasi dan skrining EKG sejak Maret 2026 di Siloam Simatupang Hospitals menunjukkan hasil yang perlu menjadi perhatian.
Direktur Siloam Hospitals TB Simatupang, dr. Dewi Wiguna, MSc, memaparkan data skrining EKG terhadap 1.412 pasien berusia 15 hingga 44 tahun. Hasilnya, sekitar 11 persen mengalami aritmia, yang berarti satu dari sepuluh orang yang diskrining terdeteksi memiliki aritmia. Menariknya, sebagian besar dari mereka tidak menyadari kondisi tersebut sebelumnya. Kasus terbanyak ditemukan pada kelompok usia produktif 25 hingga 44 tahun.
Data ini sejalan dengan pernyataan Prof. Yuda yang menyebutkan karakteristik aritmia di Indonesia cenderung ditemukan pada pasien yang lebih muda dibandingkan negara lain. Selain itu, data dari Siloam Hospitals juga menunjukkan hubungan erat antara stroke dan gangguan irama jantung.
Pada pasien stroke yang menjalani pemeriksaan EKG selama 24 jam (Holter monitoring), sekitar separuhnya ditemukan mengalami aritmia. Ini mengindikasikan bahwa pada sebagian pasien stroke, sumber masalahnya bisa berasal dari jantung.
“Karena itu, skrining tentunya perlu ditawarkan kepada populasi masyarakat yang lebih luas. Ketika kita dapat mendeteksi penyakit ini lebih dini, penanganannya tentu dapat dilakukan secara lebih optimal dan risiko terburuk, seperti stroke bahkan kematian jantung mendadak, dapat dicegah,” tegas dr. Erika.