Fadli Zon Buka IIBF 2026, Tekankan Peran Buku dalam Diplomasi Budaya

Jakarta – Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, secara resmi membuka gelaran Indonesia International Book Fair (IIBF) 2026 yang berlangsung di Jakarta Convention Center. Pameran buku internasional ini mengusung tema utama ‘Read Today, Lead Tomorrow’, yang mencerminkan komitmen pemerintah dalam memperkuat ekosistem literasi nasional berbasis kebudayaan.

Fadli Zon dalam sambutannya menegaskan bahwa buku memiliki peran strategis tidak hanya sebagai komoditas, tetapi juga sebagai duta diplomasi budaya bangsa di tingkat global. Ia menekankan bahwa minat membaca buku merupakan investasi penting untuk membentuk generasi masa depan yang memiliki pengetahuan kritis, kreatif, dan jiwa kepemimpinan.

“Buku adalah utusan yang tidak pernah lelah berjalan dari satu generasi ke generasi lain, dari satu bangsa ke bangsa lain. Melalui buku, kita memperkenalkan kearifan lokal, memperkuat jati diri, sekaligus membangun jembatan antarperadaban. Tulisan-tulisan dalam buku, baik itu sastra, sejarah, dan pengetahuan lainnya, termasuk cerita dari berbagai daerah. Hal itu yang kita harus terus diwariskan, ditafsirkan kembali, dan diperkenalkan kepada dunia,” ujar Fadli dalam keterangan tertulis, Rabu (30/9/2026).

Untuk mewujudkan visi tersebut, Kementerian Kebudayaan (Kemenbud) telah meluncurkan sejumlah program strategis, salah satunya adalah platform ‘Read Indonesia’. Platform ini dirancang untuk memperluas jangkauan kisah-kisah Nusantara ke mancanegara, sekaligus menjadi ruang untuk mendokumentasikan dan mengekspresikan karya literasi.

“Kementerian Kebudayaan sangat mendukung penguatan literasi sebagai bagian dari upaya merawat dan mengembangkan kebudayaan. Dan dukungan ini mencakup perluasan ruang bagi penulis dan karya dari berbagai daerah, penguatan kegiatan literasi berbasis komunitas, dan juga kerja sama agar karya Indonesia semakin mudah dijangkau, dikenal di tingkat internasional,” jelas Fadli.

Lebih lanjut, Fadli memaparkan program Kemenbud yang berfokus pada penguatan ekosistem buku dan sastra nasional melalui enam pilar utama. Pilar-pilar tersebut meliputi penciptaan dan generasi talenta sastra; penguatan komunitas dan festival buku; laboratorium penerjemahan bahasa asing; pengelolaan promosi dan hak cipta (intellectual property); pengembangan industri dan adaptasi media; serta perluasan akses pasar internasional.

IIBF 2026, yang diinisiasi oleh Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI), diselenggarakan mulai 30 September hingga 4 Oktober 2026. Pameran ini turut menghadirkan lebih dari 70 peserta internasional dari 24 negara, serta lebih dari 50 diskusi publik dengan partisipasi 200 narasumber.

Pengunjung IIBF 2026 juga dimanjakan dengan festival buku anak-anak dan beragam program kesastraan. Selain itu, gelaran ini menyediakan forum Lit Connect sebagai wadah diskusi dan lokakarya bagi para pelaku industri penerbitan.

Acara pembukaan IIBF 2026 dihadiri oleh berbagai pejabat penting, termasuk Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Veronica Tan, Staf Ahli Bidang Komunikasi Politik dan Kehumasan Kementerian Sekretariat Negara Sari Harjanti, Deputi Bidang Pengembangan Sumber Daya Perpustakaan Adin Bondar, Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Hafidz Muksin, Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) Arys Hilman, Chairperson IIBF 2026 Committee Wedha Stratesti Yudha, jajaran Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, serta tamu kehormatan dari negara-negara sahabat.

Menteri Kebudayaan juga didampingi oleh jajaran kementerian, di antaranya Sekretaris Jenderal Bambang Wibawarta, Direktur Jenderal Diplomasi, Promosi dan Kerja Sama Kebudayaan Endah T.D. Retnoastuti, Direktur Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan dan Pembinaan Kebudayaan Ahmad Mahendra, Inspektur Jenderal Fryda Lucyana, Staf Ahli Menteri Bidang Ekonomi dan Industri Kebudayaan Anindita Kusuma Listya, Staf Khusus Menteri bidang Diplomasi Budaya dan Hubungan Internasional Annisa Rengganis, Staf Khusus Menteri Bidang Protokoler dan Rumah Tangga Rachmanda Primayuda, serta Direktur Promosi Kebudayaan Wawan Yogaswara.

Menutup sambutannya, Fadli menekankan amanat Pasal 32 Ayat (1) UUD 1945 mengenai kemajuan kebudayaan nasional di tengah peradaban dunia. Melalui alokasi Dana Indonesia Raya serta kemitraan strategis bersama IKAPI dan para penerbit, Kemenbud berkomitmen memfasilitasi kehadiran karya-karya terbaik Indonesia di panggung festival buku internasional mendatang.

“Indonesia International Book Fair 2026 memperlihatkan bahwa literasi merupakan bagian dari diplomasi budaya. Dan hadirnya mitra dari berbagai negara sahabat di Indonesia International Book Fair 2026 menunjukkan bahwa literasi Indonesia juga semakin diperhitungkan di tingkat global,” pungkas Fadli.

Tinggalkan komentar