Es Teler 77 dan Amorcakes Bangkit dari Pandemi Lewat Digitalisasi

JAKARTA – Merek kuliner legendaris Es Teler 77 dan Amorcakes and Bakery menunjukkan kebangkitan pasca-pandemi COVID-19. Es Teler 77 menargetkan penambahan 70 gerai hingga akhir 2026, sementara Amorcakes berambisi menggandakan pertumbuhannya.

Es Teler 77 didirikan pada 1982 oleh pasangan Murniati Widjaja dan suaminya di teras pertokoan Duta Merlin, Jakarta. CEO dan pemilik saat ini, Yenny Setia Widjaja, yang akrab disapa ‘Oma Teler’, menceritakan bahwa awal mula berdirinya gerai ini berawal dari tawaran membuka usaha di area pertokoan yang sangat ramai.

“Dari situlah Es Teler 77 lahir dan mulai berjualan es teler,” kata Oma Teler dalam wawancara di Jakarta, baru-baru ini. Ia menambahkan, pada masa awal, sistem waralaba belum secanggih sekarang, namun banyak yang tertarik membuka Es Teler 77. Bisnis ini kemudian berkembang pesat ke berbagai kota di Indonesia dan bahkan hingga ke luar negeri seperti Australia, Malaysia, dan Singapura, sebelum pandemi COVID-19 dengan sekitar 140 cabang.

Namun, pandemi membawa pukulan telak. Dengan hampir 99% gerai Es Teler 77 berlokasi di dalam mal, penutupan pusat perbelanjaan berdampak langsung pada bisnis. “Kami memiliki sekitar 3.000 karyawan. Itu menjadi salah satu masa yang sangat berat bagi kami. Dari sekitar 140 cabang, setelah pandemi kami hanya memiliki 12 cabang yang bertahan,” ungkap Oma Teler.

Perlahan tapi pasti, Es Teler 77 bangkit. Saat ini, jumlah cabang telah bertambah menjadi sekitar 54, dengan target 70 cabang pada akhir 2026, mayoritas melalui sistem waralaba. Strategi baru diterapkan dengan membuka sekitar 50% gerai di luar mal (stand alone) untuk mengurangi ketergantungan pada pusat perbelanjaan.

Salah satu kiat kebangkitan Es Teler 77 adalah adaptasi digital melalui platform seperti TikTok Go by Tokopedia. Oma Teler, yang kini berusia 72 tahun, bahkan belajar menjadi kreator konten dan melakukan siaran langsung (live streaming).

“Sekarang Oma juga belajar menjadi content creator. Harus bikin konten, harus live. Jadi memang terus belajar,” ujar Oma Teler. Produk unggulan seperti es teler, bakso, bakmi ayam, dan otak-otak tetap menjadi andalan. Melalui TikTok Go, mereka menawarkan produk es teler ukuran mini seharga Rp7 ribu, yang disambut antusiasme luar biasa, bahkan mencapai ratusan ribu gelas per hari pada momen tertentu.

“Pada saat itu penjualannya bahkan mencapai ratusan ribu gelas per hari. Jadi kami benar-benar merasakan bagaimana produk bisa dikenal dengan lebih mudah dan cepat melalui platform digital. Bahkan ada satu sesi live pada bulan Juli yang penjualannya mencapai puluhan juta rupiah,” kata Oma Teler. Penjualan online kini berkontribusi sekitar 60% dari total penjualan.

Aktivitas digital ini juga terbukti membawa konsumen kembali ke gerai fisik, menciptakan sinergi antara online dan offline.

Sementara itu, Amorcakes and Bakery, yang berdiri sejak 2010 di Sukabumi, juga menunjukkan pertumbuhan impresif. CEO dan pendiri, Ridwan Darussalam, memulai bisnis kue dari skala kecil dan berkembang ke 37 gerai di berbagai kota seperti Jakarta, Bogor, Depok, dan Bekasi.

“Salah satu yang menjadi kekuatan produk kami adalah penggunaan pisang. Sukabumi memang memiliki sumber daya pisang yang melimpah. Jadi kami banyak menggunakan pisang sebagai bahan utama produk. Kami tidak mengandalkan perasa tambahan untuk membuat rasa pisangnya terasa kuat. Justru kami ingin ketika orang makan produk kami, rasa pisangnya benar-benar terasa seperti pisang,” ungkap Ridwan.

Amorcakes menargetkan pertumbuhan dua kali lipat tahun ini dan berharap terus berkembang dalam lima tahun ke depan. Perjalanan digital mereka dimulai dari ulasan konsumen di TikTok, yang mendorong Amorcakes untuk lebih aktif membuat konten.

“TikTok menjadi salah satu platform yang banyak digunakan masyarakat Indonesia. Dengan adanya TikTok Go by Tokopedia, kami merasa sangat terbantu. Perubahan ini juga terasa dari sisi penjualan online. Kalau sebelumnya, pada tahun 2024, kontribusi penjualan online kami masih di bawah 10%, sekarang sudah meningkat cukup pesat,” ujar Ridwan.

Kini, sekitar 30% dari total omzet Amorcakes dikontribusikan oleh TikTok Go by Tokopedia. Sekitar 70% dari keseluruhan penjualan online mereka berasal dari platform tersebut. Ridwan menambahkan bahwa Amorcakes berupaya menjangkau konsumen yang lebih muda, termasuk Gen Z, untuk kategori seperti kue ulang tahun.

Tinggalkan komentar