PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) atau EMP memproyeksikan produksi minyak dan gas (migas) perseroan bakal tumbuh rata-rata di kisaran 10% per tahun dalam lima tahun ke depan. Target pertumbuhan ini akan diawali pada beberapa blok utama seperti Blok Malacca, Siak, dan Blok Kampar.
Wakil Direktur Utama EMP Edoardus Ardianto mengatakan, perseroan menargetkan kenaikan produksi minyak sekitar 5% pada tahun 2026. “Jadi, kami menargetkan dalam 2026 ini saja, akan ada kenaikan produksi minyak roughly sekitar 5%,” ucap Edoardus alias Edo dalam program bertajuk Positioning for Transformational Growth yang disiarkan secara virtual, Sabtu (26/9/2026).
Sementara itu, untuk produksi gas, Edo mengakui produksinya akan relatif mendatar atau flat. EMP sedang mempersiapkan komersialisasi tambahan produksi di Blok Gebang yang diharapkan tercapai pada semester I-2027 untuk meningkatkan produksi gas.
Dalam lima tahun ke depan, emiten migas Grup Bakrie tersebut telah menyiapkan serangkaian program eksploratif dan pengembangan dengan target produksi rata-rata meningkat sekitar 10%. “Itu rata-rata untuk lima tahun ke depan. Tapi, mungkin tidak flat all the way 10%. Ada yang mungkin di bawah 10%, ada yang di atas 10%. Jadi, tergantung dari nanti keberhasilan eksplorasi dan pengembangan kami. Tapi yang jelas, rata-rata naik 10% per tahun,” tegas Edo.
Katalis pendorong produksi migas EMP dalam lima tahun ke depan akan banyak dikontribusikan oleh aset-aset eksisting yang berada di portofolio perseroan, yang berarti pertumbuhan secara organik. Ini belum termasuk potensi kontribusi dari aset-aset hasil akuisisi.
Saat ini, EMP memiliki total 13 aset hulu migas yang terdiri dari 12 aset di Indonesia dan satu aset di Mozambik, Afrika. Dari 13 aset tersebut, sembilan di antaranya beroperasi komersial, sementara empat sisanya masih dalam tahap pengembangan dan eksplorasi. Aset-aset yang masih dalam tahap pengembangan dan eksplorasi meliputi aset migas Buzi Mozambik, aset migas Gebang di Sumatra Utara, aset migas South CPP di Riau, dan aset migas Bireun Sigli di Aceh.
Terkait rencana akuisisi, EMP akan terus menambah aset-aset baru melalui strategi merger dan akuisisi, terutama pada aset-aset yang sudah beroperasi. “Kami melihat kesempatan di pasar seperti apa baik di pasar migas domestik, maupun internasional. Jadi, any opportunities, kami akan akuisisi baik aset minyak maupun gas selama aset itu memiliki cadangan yang bagus, umurnya masih panjang sehingga dapat menghasilkan produksi berkelanjutan, dan dari segi pendanaan inline dengan rencana EMP,” papar Edo.
Baru-baru ini, ENRG telah memperoleh pernyataan efektif dari OJK untuk aksi Penambahan Modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) IV atau rights issue 2026 dengan target dana Rp4,11 triliun. Edo menjelaskan, EMP akan menggunakan dana tersebut untuk memenuhi kebutuhan belanja modal (capital expenditure/capex) dan modal kerja (working capital).
“Kurang lebih 90% untuk capex dan 10% modal kerja. Dari 90% capex ini, alokasinya kami prioritaskan untuk tiga aset besar kami yaitu Bentu, Malacca, dan Kangean. Secara persentase, Bentu hampir 60%, Malacca dan Kangean masing-masing 15%. Sisanya, untuk keperluan unit-unit bisnis lain,” tutup Edo.